Bagai telur diujung tanduk

Bagai telur diujung tanduk

Hari ini keteguhannnya kembali tergoyahkan.  Ia kembali bergeming dan bergetar.  Ia mempunyai hati dan hatinya bertanya tentang semua pengorbanan yang selama ini ia berikan.  Manusiawi.  Mungkin hanya satu kata itu yang menjadi pembelaan saat penyesalan singgah dihatinya.
Menangis.  Mungkin tak semua orang percaya bahwa dia menangis.  Bukan menangis menyesali apa yang terjadi tetapi menangis karena  ia takut kepada tanggungjawab yang kini ia masih pikul. Berat. Satu kata yang sangat sulit diucapkan oleh lisan karena beban yang menghimpit itu tak tampak di mata namun hati yang merasakan.  Sesak.
Dadanya penuh dengan helaan nafas panjang yang tak henti ia berharap ada sebuah keajaiban untuk merubah suasana saat ini.  Penat.  Sebuah pusaran dahsyat sering kali muncul didalam otak ini.  Pusaran yang mengarah kepada ulu hati.  Jika ia diizinkan untuk berkata jujur maka kejujuran itu akan nampak bagaikan sebuah pedang bermata dua.  Ia akan melukai orang yang terkena tebasan liarnya.  Takan terdengar heningnya udara.  Matanya akan melihat dengan garang. Bernafsu untuk menghancurkan apa yang terlihat didepannya.  Mata nuraninya akan dibutakan oleh nafsu.  Yang melihat hanyalah sepasang mata merah yang hanya bisa melihat keangkuhan.  Itu yang terlihat.
Ia adalah yang berada dipikiranku.  Kini aku akan berbicara.  Sedikit menyampaikan pesan yang ia bisikan ke telinga.   Begini, jika ada alasan, aku ingin segera pergi meninggalkan semua kenangan yang telah terangkai dalam sebuah simpul derita selama ini.  Kulihat simpul itu semakin kuat.  Hingga kekuatannya membuat semua orang terjepit bahkan kesakitan.  Aku tak menghiraukan simpu itu.  Yang tengah aku hiraukan adalah akhir-akhir ini pikiran dan hatiku selalu disergap dengan sebuah ketidakpastian.  Aku merasa mempertanyakan diriku sendiri. Aku mempertanyakan tentang keberadaanku disini.  Aku bertanya  kepada diriku sendiri tentang waktu yang telah kuhabiskan selama ini.  Dan aku pun bertanya tentang kehadiranku di tanah bumi ini. 
Yang aku rasakan kini bagaikan memegang sebuah batu panas.  Aku tak sanggup memegangnya.  Namun ketika akan kuberikan kepada orang lain, mereka tak mau karena takut terbakar.  Dan ketika aku akan melepaskannya maka akan ada banyak tanaman diatas tanah yang rusak terbakar.  Aku pun hanya bisa diam.  Berharap sebuah pertolongan hadir.  Dan semua ini terangkum dalam sebuah ketidakjelaan.  Cerminan hati seorang insan yang berdiri bagai telur diujung tanduk.

06 Juni 2011
Menanti Fase Berganti - L


Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Post a Comment

silahkan berkomentar