Kita Harapan Mereka?
Hari ini tidak ada yang spesial bagiku. Diluar dugaan tak menyangka. Ketika tiba di kampus aku lupa bahwa hari ini ada kegiatan donor darah. Dengan terpaksa demi menjaga gengsi didepan teman-temanku, akhirnya akupun rela mentranfer darahku ke kantung 350cc. Tetapi jika niatnya terpaksa, mana bisa aku mendapatkan kebaikan didalamnya. Jadinya aku benahi niatku itu, aku berkata dalam hati dengan gemetaran: aku ikhlas Insya Allah. Aku dilema. Tersenyum sendiri dalam hati. Apa benar aku ikhlas? heu
Saat kuanggap hari ini tidak spesial, aku kembali berfikir. Sebuah pertemuan membuatku kembali termenung akan sebuah harapan besar yang diberikan orang lain. Disaat mataku tertutup oleh keegoisan mimpi. Disinilah mataku terbuka akan sebuah pengharapan. Mereka adalah orang-orang yang tinggal jauh dari asap motor dan gedung bertingkat. Mereka yang terceritakan oleh guru baruku. Ceritanya mempesona menggugah dan membuatku tak berkedip.
Sederhana,hanya mencoba kembali menyadarkan otak yg sudah terbuai oleh mimpi. Mimpi yang dijanjikan oleh angan. Mimpi yang jalannya tak selalu indah, tak selalu mudah. Namun sering kali membuat gundah. Yang katanya ditangan sesosok pembelajar ada berjuta mimpi mereka. Mimpi para penghuni tanah yang kaya tapi tak pantas untuk dibilang kaya. Begitu kata guru baruku itu.
Sebuah sebutan pembelajar yang disandingkan dengan gelar yang semestinya dinisbatkan kepada Tuhan. Mereka menyebutnya Mahasiswa. Sejatinya sempurna sebagai orang yang pandai segalanya. Hingga saat pompa air mereka rusak, mereka minta tolong mahasiswa membetulkan. Saat di kampung itu tak ada dokter, mereka panggil mahasiswa untuk memeriksa anak mereka yang tengah demam. Tak penting dan tak mau tahu dari mana dan belajar apa mahasiswa itu. Yang penting mereka menginginkan pompa air betul kembali. Yang penting anak mereka bisa sembuh dari demam. Karena yang mereka tahu bahwa mahasiswa itu orang yang pintar. Dalam pikiran mereka mahasiswa itu bisa segalanya. Mahasiswa terlihat luar biasa di mata mereka karena sering terlihat di televisi rumah mereka.
Guruku melanjutkan ceritanya. Saat dia tengah sekolah di Jerman sana, ia bertemu dengan profesor. Tak tanggung profesor yang menjadi gurunya itu berani mempertaruhkan gelar profesornya demi sebuah hal yang mungkin dianggap tak mungkin. Profesor itu mengetahui bahwa guruku yang waktu itu tengah belajar berasal dari Indonesia. Sebenarnya tidak banyak orang barat, khususnya di Eropa, tahu dimana Indonesia. Orang –orang di Eropa malah bertanya kalau Indonesia itu sebelah mananya Bali. Jadi di Benua Asia mereka itu lebih mengenal Bali. Dan mereka kira Indonesia itu adalah salah satu wilayah di Bali.
Dan tahukah anda, hal apa yang dipertaruhkan profesor? Tanpa berharap jawaban dari pertanyaanya, guruku menjawab: Indonesia. Ya! Indonesia yang katanya menjad negeri Impian masa depan. Aku tidak melebih-lebihkan cerita kawan, tapi itulah yang kudengar barusan. Beberapa tahun mendatang guruku berkata bahwa professor dengan wajah yakin wajahnya Menatap masa depan Indonesia ada ditangannya. Masa depan Indonesia ada ditangan mahasiswanya yang tengah berada di negeri sebrang. Bingung. Ya guruku pun bingung.
Pagi menjelang siang ketika itu tidak cukup panas. Namun terasa sejuk. Sedikit mengeluh dipenuhi berjuta peluh. Memang harapan itu masih ada. Tapi, kita lihat dilayar televisi, aktor-aktor berdasi telah memainkan peran. Berbeda strata dengan maling ayam yang terpergok langsung disiram minyak tanah. Aktor-aktor itu masih bias tidur di kasur empuk. Dilengkapi pendingin ruangan dan tv layar lebar. Dan sebagia orang bertanya: Apakah pekerjaan korupsi itu sungguh mulia, hingga hukuman tak berasa seperti hukuman. Kabarnya hanya di awal, jadi artis mendadak. Kemudia hilang entah bebas atau pergi keluar negeri. Kalau dia tahu ada kasur dan tivi, yang pasti tukang maling ayam itu lebih memilih di bui jadi pada beringsatan kabur dikejar masa. Dan setiap orang pasti bertanya seperti ini: Apa professor itu tidak sedang mengigau?
Mimpi di negeri ini benar-benar akan terkabul. Bahkan tanpa menunggu waktu lama. Kesejahteraan, keadialan, kedamaian, dank e – an semuanya akan benar-benar terjadi. Hanya butuh satu tindakan yaitu TIDUR! Maka mimpi itu pun akan nampak. Tapi sebelum tidur alangkah lebih baiknya kita bersantai dulu. Kita nonton tivi lagi yuk! Ada sinetron yang seru lohh. Wah iya betul! Dan akhirnya kita tahu. Hidup beberapa orang manusia habis terjebak dalam buaian cerita fiktif. Mimpi akan semakin jelas dan nampak. Ingin punya rumah gedong dan mobil mewah seperti di sinetron. Semakin Nampak Jelas. Setelah itu mari kita tidur.
Apakah begitu? Ahh tidak ada sekali harapan di sini kawan. Guruku sudah lelah memikirkan masa depanya sendiri. Dan pastinya menyerah melihat kondisi tanah kaya ini. Sejenak guruku membenak. Diam. Kembali mengangkat pandangannya. Menghela nafasnya. Menata kata ucapanya. Dan seketika ia kumpulkan keyakinan itu. Seketika pula ia tampakan keyakinan itu. Tak perlu kau lihat masa lalu, kau hanya perlu tahu dan pelajari sebagai sejarah yang berarti. Tak perlu kau pusingkan urusan dunia, benahi dulu urusan hatimu. Dan kini cahaya itu bersinar. Profesor itu benar. Gelarnya takan pernah jadi taruhan. Karena pengharapan dan mimpi itu telah aman. Dan akan selalu diperjuangan oleh orang-orang pilihan Tuhan. Jangan khawatir jangan menyerah. Karena kitalah orangnya.

0 komentar:
Post a Comment
silahkan berkomentar