Belajar dari Sang Raja dari China



Berakit-rakit kehulu berenang renang ketepian.  Bersakit sakit dahulu bersenang senang  kemudian.  Itulah pepatah yang cocok bagi orang-orang yang kini menuai keberhasilan perjuangannya.  Keberhasilan bukan semata-mata disebabkan oleh kesuksesan, namun keberhasilan adalah akibat dari kesempurnaan ikhtiar yang dilakukan seseorang.


Hidup ini bergerak.  Bergerak maju dan tak pernah sedikitpun mundur.  Satu detik yang berdetak tak mungkin bisa kembali.  Semua hal yang kita rasakan hari ini, semua itu adalah hasil dari perbuatan kita dimasa lalu.  Begitupun semua hal yang akan kita rasakan kelak di masa yang akan dating, itupun adalah hasil dari apa yang kita kerjakan hari ini


Di dunia ini, di atas bumi ini, miliyaran orang telah bersaing untuk sebuah kehidupan. Banyak orang tidak sadar menganggap hidup ini hanya di dunia.  Padahal yang namanya kehidupan itu takan pernah berakhir.  Adapun mati hanyalah sebuah persinggahan menuju kehidupan selanjutnya.  Oleh karenanya nasib kehidupan mendatang kita kelak ditentukan dari hasil kehidupan kita saat ini.  Kehidupan saat ini adalah sebab dari akibat kehidupan selanjutnya.

Kita tahu China adalah  yang memiliki penduduk terbanyak dimuka bumi. Kedekatannya dengan negara Adidaya, Unisoviet, menjadikan China sebagai negara yang semakin disegani.  Teringat sebuah kisah tentang seorang Sang Raja China gagah perkasa.

Diceritakan  Sang Raja tengah melakukan perjalanan di sungai dengan menggunakan perahu rakit.  Di dalam perahu,  Sang Raja ditemani seorang Menteri dan seorang budak yang bertugas mendayung perahu.  Cuaca saat itu panas dan terik.  Sang Raja dan Menteri tidur didalam kabin perahu. Sementara budak mengayuh perahu dengan lelah.  Ternyata hal ini membuat budak tersebut merasa hidup tidak adil baginya.  Dia menggerutu menyesali tingkah Sang Raja dan Menteri yang tertidur pulas.  Sementara di tengah cuaca yang terik ini dia harus mendayung.   Dia berfikir Sang Raja dan dirinya itu sama-sama manusia.  Mata, telinga, tangan, kaki dan semuanya sama.  Tetapi mengapa perlakuan terhadap dirinya berbeda.  Dia berbisik pelan kenapa hidup ini tidak adil baginya.  Terus berbisik seraya kecewa, budak tersebut terus bertanya apa yang membedakan dirinya dengan mereka yang tertidur pulas.  Hidup ini memang tidak adil, begitu katanya.


Tanpa disadari, tak sengaja  Sang Raja mendengar apa yang budaknya ucapkan.  Untunglah  Sang Raja adalah seorang yang bijaksana.  Mendengar hal yang diucapkan budaknya,  Sang Raja bergegas keluar pelan.  Lalu   Sang Raja memerintahkan budak untuk menghentikan perahu.  Perahu berhenti.  Terdengar dari kejauhan, di daratan ada suara-suara kecil.   Sang Raja menyuruh budak untuk melihatnya, apakah yang bersuara itu.  Bergegas budak tersebut berenang menuju daratan untuk melihat benda apa yang bersuara.  Tiba di daratan, ternyata yang bersuara itu adalah anak-anak kucing.  Budak pun kembali ke perahu dan melapor bahwa suara itu adalah suara anak-anak kucing.   Sang Raja bertanya kembali, ada berapa banyak anak kucing disana.  Budak tersebut kembali berenang untuk menghitung ada berapa anak kucing.  Dan ternyata ada 5 ekor anak kucing.  Segera budak tersebut kembali ke perahu dan melaporkannya ke Sang Raja.  Tiba di perahu, budak kembali ditanya oleh Sang Raja.  Apa saja warna bulu anak kucing tersebut.  Kembali budak tersebut berenang untuk melihat warna bulu anak-anak kucing tadi.  Ada Putih 2 ekor, belang 1 ekor, hitam 1 ekor, hitam putih 1 ekor, begitulah budak tersebut melaporkan kepada Sang Raja.


Kemudian  Sang Raja membangunkan Menteri yang sedang tertidur.  Lalu menyuruh menteri itu melakukan hal yang sama dengan budak.  Melihat suara apakah yang terdapat di daratan.  Menteri pun mematuhi perintah Sang Raja dan segera berenang menuju daratan.  Tidak lama kemudian Menteri kembali ke perahu dan melaporkan apa yang ia lihat.  Dia melapor bahwa yang dia lihat adalah adalah suara anak-anak kucing, berjumlah 5 ekor, ada yang berwarna Putih 2 ekor, belang 1 ekor, hitam 1 ekor, hitam putih 1 ekor.  Budak menyaksikan apa yang dilakukan oleh Menteri.  Kemudia Sang Raja berkata kepada budak bahwa itulah yang membedakan antara budak dan Menteri.


Tahukah kawan, di dunia ini banyak orang yang rugi karena salah menggunakan waktu.    Ada orang didunia ini yang kerjanya hanya mengutuk nasib buruk yang menimpanya.  Tanpa sadar bahwa dia sendirilah yang menyebabkan nasib buruk itu.  Temanku pernah bilang, hanya butuh sedikit berbeda untuk sukses.  Hanya butuh merasakan sedikit sakit dalam berjuang.  Karena yakinilah bahwa jalan hidup setiap orang itu tak selamanya mulus.  Terus berusaha jangan pernah puas dengan hasil yang diperoleh saat ini.  Namun tetap rendahkan hati bukti setia pada sang Illahi. Itu semua untuk menuai kehidupan yang diharapkan. 

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Post a Comment

silahkan berkomentar