Tentang Lelaki Itu [M Irfan Hidayatullah]
Lelaki itu diwarisi detikdetik sempit
Ia menunggu sesuatu menjemputnya
Sambil menyusun sajak ia takhenti berkerut kening
Takada diksi diksi merenah ia temukan
Setelah hanya mengeja, ia hapus semua yang tlah tertata
; ya Tuhan, tentu saja aku takkan menyerah
Ia masih menunggu sesuatu menjemputnya
Berkalikali ia lihat jam dinding itu
(Yang kini mengepulkan asap)
Kenapa aku takbertanya sesuatu itu apa?
Sesalnya. Kini sudah terlambat.
; ya Tuhan, tentu saja aku takkan mengalah
Sambil kembali menyusun sajak ia takhenti berkerut kening
Semua remah yang ia lihat, ia pungut
Menunggu adalah menyusun sesuatu dari ketiadaan
Kau akan tahu bahwa kata adalah benda paling pusara!
Bisiknya. Pada cuaca ia berkaca
; ya Tuhan, izinkan aku takputus asa
Takada diksidiksi merenah ia temukan
Untuk sebuah kalimatkalimat keluhan
Sajak yang baru saja kau serakkan
Menyatu kembali dengan alam dan menunggu untuk menjemputmu!
Gumamnya. Sambil berdiri dia buka pintu ruang tunggu itu.
; ya Tuhan, izinkan aku berlari saja
Setelah mengeja, ia susun kembali semua menuju makna.
Depok-Bandung, 16 September 2013
----------------
kutip dari [---]
0 komentar:
Post a Comment
silahkan berkomentar