Antara Kebenaran dan Keraguan

Antara Kebenaran dan Keraguan

Cinta adalah anugrah dan fitrah yang Allah berikan kepada setiap hambaNya. Saat cinta bersemanyam di dalam hati seorang hamba, maka ketenangan dan ketentramanlah yang seharusnya hadir menemani persemanyaman cinta. Namun tidak demikian denganku saat ini.

Dulu saat usiaku bocah (entah berapa tahun), pertama kali disaat aku baru mengenal cinta, aku mengira yang namanya cinta adalah hanyalah rasa suka kepada dia, rasa suka seorang laki-laki kepada seorang perempuan. Aku bisa mengambil kesimpulan demikian karena sejak aku masih bocah, sinetron dan lagu-lagu cinta baik di televisi maupun di radio ternyata telah marak seperti sekarang ini dan siap mengisi otak bawah sadar tiap orang. Tak dapat dipungkiri tanpa sadar aku pun dengan polosnya dapat bernyanyi lagu-lagu cinta itu. Masih ada dalam ingatanku sheila on 7, zambrut, dewa 19 dan lain-lain. Meski ketika tahun itu pula lagu anak-anak pun marak, sherina, trio wek wek, agnes kecil, dll. Mungkin maksudnya menjadi penyeimbang agar seorang anak tidak menjadi ‘dewasa’ sebelum waktunya dan itu berhasil. Tidak sedikit pula lagu anak-anak yang aku hafal ketika itu. Tetapi berbeda dengan zaman sekarang yang bisa dikatakan lebih mengkhawatirkan dari zaman dulu.

Di dalam tiap fase disaat aku mencoba untuk lebih mengenal cinta, banyak sesuatu yang aku dapatkan. Sebuah kebenaran cinta yang membawaku sampai seperti saat ini. Tetapi tidak berarti tanpa ketersesatan. Sempat beberapa kali aku hampir terjerumus kedalam lubang pergaulan yang tidak dibenarkan. Banyak bisikan-bisikan yang mengajaku untuk tersesat kedalam cinta yang membuatku tergoda dan ingin mencobanya. Dan aku tak kuasa menahan ajakan-ajakan itu. Tetapi aku bersyukur karena sifat pemalu yang Allah berikan kepadaku saat itu menjadi penghalang ajakan tersebut. Aku hanya bisa diam dan memendamkan rasa yang aku rasakan tanpa berani bercerita kepada siapapun.

Kini aku pun telah menginjakan usiaku di awal fase kedua dekade. Cinta yang ku pahami saat ini berbeda dengan cinta yang kupahami saat aku masih bocah. Cinta yang dahulu sering kudengar sebagai cinta monyet kini berubah menjadi sebuah kata yang sangat aku pelajari dan maknai sebagai bekal hidupku selama ini. Beberapa fase telah kulewati tatkala aku mencoba beinteraksi dengan cinta beberapa kali. Aku pun lebih berani berkata kepada siapapun akan kebenaran cinta yang aku pahami saat ini. Kebenaran itu menjadi prinsip teguh dalam hidupku.

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi pelindung (penolong) bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Qs. At Taubah (9) : 71)

Di sela waktu yang terus berkurang melewati usiaku, cinta terus menyapaku dengan wajah yang bervariasi. Beberapa wajah dapat kusapa dengan senyuman sedangkan beberapa lainya aku sapa dengan kesedihan. Ada juga yang kusapa dengan kesabaran. Beberapa petuah aku maknai dengan baik menyerap dalam pikiran dan hatiku. Aku pun dapat melewati sapaan itu dengan akhir yang menentramkan.

Akan tetapi tiba saat ini wajah cinta yang sering aku lihat sebelumnya, namun entah apa yang terjadi seorang petuah yang selama ini aku maknai tak sanggup membalas sapaan cinta dengan ketentraman. Kalut dan dibuatnya kepayang. Astagfirullah, ada apa dengan diri ini seolah tak berdaya untuk menghadapinya.

Laa Haula walaa Quwwata Illa billaah. Tiada kekuatan melainkan kekuatan-Nya.
Entah kenapa hati itu kadang terasa gelisah dengan sendirinya, seolah-olah ada sesuatu hal yang sedang disesalkan atau tidak disenangi atau dikhawatirkan. Bisa jadi itu adalah bisikan dari syetan atau bisa jadi juga itu adalah sebuah insting kemanusiaan. Aku sadar hati ini sedang gelisah akan sesuatu polemik yang dihadapi, maka aku pun sadar hanya Allah-lah yang pantas menjadi sandaran hati yang sedang gelisah ini. Teringat sebuah pesan yang Rasulullah saw petuahkan kepadaku.

Malaikat jibril a.s datang kepada nabi SAW dan berkata : Ya Muhammad! Hiduplah sesukamu namun engkau pasti mati. Berbuatlah sesukamu, namun engkau pasti akan diganjar. Dan cintailah siapa saja yang engkau sukai, namun engkau pasti akan berpisah dengannya. Ketahuilah, kemuliaan seorang mukmin bergantung sholat malamnya dan kehormatannya bergantung dari ketidakbutuhannya kepada orang lain (HR Ath Thabrani)

Ya Allah, setiap rasa yang engkau hadirkan dalam hati ini adalah ujian yang harus aku lewati. Aku kuat karena kekuatan yang Engkau berikan kepadaku. Aku lemah karena aku jauh dariMu. Maka selalu bimbingkah aku dalam kebenaran yang Engkau terangi.

Robbi teguhkanlah ku dipenantian ini,
Berikanlah cahaya terangmu selalu,
Robbi hanya padamu ya doaku ini,
Duhai tempat mengadu segala rasa diri

Robbi teguhkanlah ku dipenantian ini,
Berikanlah cahaya terangmu selalu,
Robbi hanya padamu ya doaku ini,
Duhai tempat mengadu segala rasa diri (by: epicentrum)


Hakikat hidup adalah sebuah pertarungan, dan pengorbanan. Gapailah akhiratmu tapi jangan lupakan duniamu, itulah salah satu prinsip yang harus di-cam-kan dalam hati. Bukan sebaliknya menggapai Dunia tapi tidak melupakan akherat. Berpeganglah pada satu buhul yang kuat, mengenali hidup dengan tuntunan keimanan, mencari arti penting ‘cinta’ dengan mencintai dan dicintai karena-Nya, dan mencari arti penting sebuah kehidupan dengan harap akan bertemu dengan-Nya. Jalanilah duniamu karena dunia itu akan menunjukkan kemana tujuan terakhirmya. Syurga kah? Atau Neraka kah?"

23- 03- 11
asa mengadu

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Post a Comment

silahkan berkomentar