Ruang Sunyi
Beberapa hari terakhir ini pikiranku masih dipenuhi ingatan tentang semua kesibukan sedang aku lakukan. terbersit sebuah tanya, sebenarnya untuk apa aku melakukan semua ini?
Aku mulai merenung kembali. Aku rebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Ku pejamkan mata dan kubayangkan semua tingkah laku yang aku lakukan selama ini. Aku urutkan kembali masa lalu yang pernah terlewati. Dengan pelan dan seksama aku putar memori dalam otaku. Aku lihat memori itu dari masa lalu menuju kini. Terus berputar hingga aku pun menemukan sebuah pertanyaan kembali, apa yang telah kau dapatkan? Aku lupakan pertanyaan awal. Dan aku mulai berfikir keras untuk mendapatkan sebuah jawaban dari pertannyaan kedua itu.
Keras hingga alis-alisku mengerut. Sampai semakin rapat ku pejamkan mata ini.
Di sebelah kanan melintas dalam pejaman mataku hidup ini sedang menertawakanku. Dia tak berhenti tertawa hingga aku merasakan malu. Malu yang luar biasa. Yang membuatku ingin berlari sekencang angin. Tak terlihat dan melesat cepat. Lalu di sebelah kiri kulihat lagi hidup yang sedang menangis. Menangis bersama penyesalan yang memaksa agar aku pun menangis dan menyesali semua.
Belum selesai sampai disitu. Tik..tok..tik..tok.. kudengar dalam kesunyian dari suara jam dindingku. Kulihat dari tengah sebuah hidup yang membuatku teduh. Sebuah titik cahaya mengiringinya ketika aku melihat kearah hidup itu.
Seketika itu kurasakan sepi. Satu persatu suara malam itu membentuk sebuah alunan serasi. Harmoni indah yang tercipta tanpa aku sadari di hari sebelumnya. Tenang. Hingga beberapa detik aku merasa menikmati kesunyian yang mengalum bersama harmoni.
Aku melihat sosok-sosok hidup tadi kini menyatu dengan damai. Aku baru tersadar tenyata hidup ini indah. Alisku tidak lagi mengerut. Kini sedikit demi sedikit aku mulai menemukan jawaban dari pertanyaanku yang kedua tadi. Tak perlu ku ucapkan. Hanya sebuah senyuman bersama kelopak mataku yang ku buka perlahan. Ku hela nafas dalam hitungan detik. Ku bebas kan hati dan pikiranku. Senyuman masih menghibur hatiku.
Langit-langit kamarku menjadi saksi atas peristiwa ini. Bola lampu yang menggantung selalu setia menerangi malam-malamku. Tak lupa selimut dan bantalku melengkapi kenyamanan tempatku memulihkan kembali staminaku yang telah terkuras siang tadi.
aku bersiap untuk kembali memutar memori otaku. Sekarang yang akan ku putar adalah kepingan mimpi yang telah aku susun sebelumnya menuju masa depan. Aku menarik nafas sekali lagi. Dalam hitungan ketiga akupun memejamkan mataku.
Perlahan kegelapan yang aku lihat menjadi sebuah bayangan. Bayangan itu adalah sebuah kertas yang telah terisi goresan-goresan tinta. Kulihat ada beberapa nomor disitu. Dan satu persatu aku baca tulisan mulai nampak dalam bayangan itu. Aku baca kembali satu persatu. Dari nomor awal sampai akhir. Dan ketika aku membaca tulisan tulisan terakhir... tiba-tiba, hitam. senyuman dan ketenangan mengiringi mimpiku. Dan aku pun lebih siap untuk menghadapi hari esok, memperbaiki semua kekurangan dan menggapai semua cita-cita yang telah aku renungkan malam ini. Semangat!
Aku mulai merenung kembali. Aku rebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Ku pejamkan mata dan kubayangkan semua tingkah laku yang aku lakukan selama ini. Aku urutkan kembali masa lalu yang pernah terlewati. Dengan pelan dan seksama aku putar memori dalam otaku. Aku lihat memori itu dari masa lalu menuju kini. Terus berputar hingga aku pun menemukan sebuah pertanyaan kembali, apa yang telah kau dapatkan? Aku lupakan pertanyaan awal. Dan aku mulai berfikir keras untuk mendapatkan sebuah jawaban dari pertannyaan kedua itu.
Keras hingga alis-alisku mengerut. Sampai semakin rapat ku pejamkan mata ini.
Di sebelah kanan melintas dalam pejaman mataku hidup ini sedang menertawakanku. Dia tak berhenti tertawa hingga aku merasakan malu. Malu yang luar biasa. Yang membuatku ingin berlari sekencang angin. Tak terlihat dan melesat cepat. Lalu di sebelah kiri kulihat lagi hidup yang sedang menangis. Menangis bersama penyesalan yang memaksa agar aku pun menangis dan menyesali semua.
Belum selesai sampai disitu. Tik..tok..tik..tok.. kudengar dalam kesunyian dari suara jam dindingku. Kulihat dari tengah sebuah hidup yang membuatku teduh. Sebuah titik cahaya mengiringinya ketika aku melihat kearah hidup itu.
Seketika itu kurasakan sepi. Satu persatu suara malam itu membentuk sebuah alunan serasi. Harmoni indah yang tercipta tanpa aku sadari di hari sebelumnya. Tenang. Hingga beberapa detik aku merasa menikmati kesunyian yang mengalum bersama harmoni.
Aku melihat sosok-sosok hidup tadi kini menyatu dengan damai. Aku baru tersadar tenyata hidup ini indah. Alisku tidak lagi mengerut. Kini sedikit demi sedikit aku mulai menemukan jawaban dari pertanyaanku yang kedua tadi. Tak perlu ku ucapkan. Hanya sebuah senyuman bersama kelopak mataku yang ku buka perlahan. Ku hela nafas dalam hitungan detik. Ku bebas kan hati dan pikiranku. Senyuman masih menghibur hatiku.
Langit-langit kamarku menjadi saksi atas peristiwa ini. Bola lampu yang menggantung selalu setia menerangi malam-malamku. Tak lupa selimut dan bantalku melengkapi kenyamanan tempatku memulihkan kembali staminaku yang telah terkuras siang tadi.
aku bersiap untuk kembali memutar memori otaku. Sekarang yang akan ku putar adalah kepingan mimpi yang telah aku susun sebelumnya menuju masa depan. Aku menarik nafas sekali lagi. Dalam hitungan ketiga akupun memejamkan mataku.
Perlahan kegelapan yang aku lihat menjadi sebuah bayangan. Bayangan itu adalah sebuah kertas yang telah terisi goresan-goresan tinta. Kulihat ada beberapa nomor disitu. Dan satu persatu aku baca tulisan mulai nampak dalam bayangan itu. Aku baca kembali satu persatu. Dari nomor awal sampai akhir. Dan ketika aku membaca tulisan tulisan terakhir... tiba-tiba, hitam. senyuman dan ketenangan mengiringi mimpiku. Dan aku pun lebih siap untuk menghadapi hari esok, memperbaiki semua kekurangan dan menggapai semua cita-cita yang telah aku renungkan malam ini. Semangat!

0 komentar:
Post a Comment
silahkan berkomentar