Totalitas: Tukang Parkir

Seperti biasa, kegiatanku tiap pagi adalah mengantar beberapa anak tetangga ke sekolah.  Mmm.. ya! Bisa di bilang ‘ngojek’, tapi lumayan lah buat nambah-nambah ongkos bensin dan uang saku harianku sebagai anak kampus.  Maklum aku kuliah tidak ngekost.  Tiap hari aku pulang pergi dari rumah ke kampus menggunakan motor. Rumahku di Bandung dan kampusku di Cimahi, butuh waktu 30 menit perjalanan tanpa macet untuk kuliah.  Dan alasannya adalah sebagai mahasiswa harus belajar mandiri.  Walaupun kalo untuk makan sehari-hari aku masih bisa makan dirumah.  Tetapi aku malu jika masih harus meminta uang jajan atau uang bensin kepada orang tuaku.  Oleh karena itu, aku belajar untuk mencari uang tambahan sendiri.  Dan itulah salah satu aktifitasku di pagi hari.  Tapi biasanya sebelum aku mengantar beberapa anak ke sekolah, aku biasa mengantar ibuku ke pasar untuk membeli bahan-bahan untuk jualan.  Biasanya setelah sholat shubuh aku langsung berangkat dan kembali jam enam pagi.


Pagi ini berbeda.  Aku pergi ke pasar mengantar ibu, setelah aku mengantar anak ke sekolah.  Kebetulan aku kuliah siang, jadi tak masalah bagiku.  Ada sesuatu yang menarik ketika aku sedang menunggu ibuku berbelanja di pasar.  Ketika itu aku menunggu di parkiran, duduk diatas motorku.  Tanpa membuka helm fullface yang aku kenakan, aku memerhatikan keadaan sekeliling. Aku tengkok kiri kanan.  Rame dan banyak orang.  Para penjual di pasar biasanya sudah siap menggelarkan dagangannya dari saat jauh sebelum shubuh.  Dini hari sekitar jam 2-3an.  Kulihat tidak ada perbedaan situasi saat aku pergi ketika hari masih gelap atau masih terang.  Masih saja ada banyak orang-orang yang aku lihat dan aku tebak mungkin orang-orang ini belum mandi seperti aku, hehe..

Tiba tiba saja pandanganku terlempar pada sesosok manusia yang tengah gesit mengarahkan beberapa kendaraan untuk parkir.  Aku kembali bergumam dalam hatiku.  Namun yang aku gumamkan dalam hatiku ketika melihat orang itu adalah, “Ini tukang parkir?”.  Sebuah pertanyaan yang membuatku heran dan aneh seolah tak percaya kepada apa aku sedang lihat.  Pasalnya tukang parkir ini berbeda. Entah apakah orang ini baru menjadi di tukang parkir di pasar ini ataukah sudah lama.  Soalnya aku baru melihat tukang parkir tersebut pagi ini.

Apa yang membuatnya berbeda.  Aku lihat perbedaan yang sangat mencolok pada tukang parkir ini.  Seperti yang kita tahu, jika kita melihat tukang parkir sering kali kita lihat mereka menggunakan baju oranye atau baju lusuh karena mungkin jarang dicuci.  Tapi yang aku baru lihat ini jauh sekali dari pencitraan seorang tukang parkir. Dia tukang parkir yang menurutku paling gaul yang selama ini pernah aku lihat.  Kita juga mengetahui saat orang-orang pergi ke pasar tradisional, maka jarang sekali bahkan hampir tidak ada orang, baik penjual atau pembeli, mengenakan pakaian rapi dan modis.  Tapi tukang parkir ini terlihat seperti itu.

 Aku liat dandanannya dari ujung kepala hingga ujung kaki, waaww! Seperti dandanan mau pergi ke mall.  Di kakinya sepatu mengkilat pantopel menarik mata yang lewat.  Celana jeans dengan ikat pinggang hitam. Pesonanya bertambah saat aku lihat dia memakai kaos hitam dan kemeja merah yang tidak dikancingkan ditambah beberapa aksesoris yang dikalungkan di leher dan digelangkan ditangan.  Dan yang paling mencolok yang membuat mataku terheran-heran, dia menggunakan kacamata hitam gaul dengan batang putih.  Aku sering melihat kacamata itu di infotaiment karena sering dipake oleh beberapa artis dan musisi band. Aku menggeleng-gelengkan kepala.  Aku terbengong beberapa saat memerhatikan seksama tukang parkir itu.  Kemudian aku tertawa dalam hati.

Aku kembali merenungi apa yang baru saja aku lihat.  Ternyata ada juga orang yang seperti itu.  Aku mencoba mengambil hikmah dari kejadian itu.  Beberapa kali aku lihat kembali tukang parkir itu saat ada kendaraan yang hendak parkir dan saat ada kendaraan yang hendak pulang.  Bagus dan cukup profesional.  Selain memiliki percaya diri yang tinggi, tukang parkir itu lumayan cekatan dalam mengatur keluar masuk kendaraan.  Tangan kirinya dipakai untuk memegang uang recehan yang diberikan oleh beberapa pemilik kendaraan yang parkir ditempat tadi.  Dan tangan kanannya gesit menganyun-ayun selaras dengan sautan mulut saat mengarahkan kendaraan yang hendak masuk dan keluar.   Satu pelajaran pagi ini adalah sebuah pelajaran yang penting saat kita melakukan aktifitas dan kegiatan apapun.  Yakni totalitas.  Memberikan yang terbaik, baik itu dari penampilan, cara kerja ataupun hal lainnya saat kita tengah melakukan kegitaan.  Pagi hari yang baik untuk memulai sesuatu yang baik.  Kembali diingatkan oleh sebuah sapaan hangat cahaya dipagi hari. J

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Post a Comment

silahkan berkomentar