Kadeudeuh, Karapa, Karasa
Kadeudeuh, Karapa, Karasa
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung“. (Q.S. Ali-Imran : 104)
Kawan, pernahkah kita merenung sejenak meng enai tugas kita sebagai makhluk Allah? Sudahkah kita menjadi makhluk yang memiliki peran dan bermanfaat bagi sekitarnya. Apakah kita termasuk didalamnya? Ataukah kita malah menjadi makhluk yang hanya mempersempit dunia ini yang mungkin hanya menjadi beban bagi makhluk lain. Tanpa pernah berbuat kebaikan atau bahkan mengajak kebaikan kepada makhluk lain pun luput tak pernah dilakukan?
Kawan banyak diantara kita, mungkin aku sendiri termasuk didalamnya, terjebak dalam sebuah roda kehidupan yang tak ubahnya seperti air tergenang. Kita tahu air yang tergenang tidak lebih bermanfaat dari pada air yang mengalir. Sering kali kita lupa akan salah satu tugas dan kewajiban utama kita sebagai muslim. Yaitu menyeru semua orang untuk berbuat kebaikan. Menjadi berbahaya jika Kita terus saja terjebak rutinitas sehari-hari. Sebagian besar aktifitas kita hidup didunia kita gunakan untuk kepentingan duniawi. Bekerja, mencari uang, mencari makan dan bercengkrama dengan keluarga. Boleh dan memang sudah kewajiban yang tak bisa kita tinggalkan memikirkan semua itu. Tapi kita selama hidup kita hanya melakukan hal itu saja, maka kalo kita bandingkan dan pikirkan – maaf – tak ubahnya kita seperti hewan. Aktifitas monoton tanpa menciptakan aset kebaikan. Padahal hakikat umat islam sebagai pemberi Rahmat bagi semesta alam hilang termakan rutinitas itu.
Kawan, kita telah mengetahui bahwa pengertian dari makruf ialah segala perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan mungkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan diri dari Allah. Maka sebenarya kedua kata itulah yang menjadi salah satu tugas utama kita di dunia jika ingin menjadi muslim yang beruntung. Berat rasanya saat ku sebut kedua kata itu. Bagai menampar muka sendiri agar aku tersadar bahwa aku pun masih jauh dan sulit untuk mengamalkan kedua kata itu.
Kita kenal dengan sebutan dakwah. Menyeru umat untuk senantiasa melakukan kebaikan. Dakwah ini adalah sebaik-baiknya amal. Memiliki nikai amal terbaik karena didalamnya kita telah turut memelihara Islam. Dalam aktifitasnya pun sangat berpotensi membangun dan memelihara amal shaleh. Tanpa dakwah tidak akan ada amal shaleh. Selain itu memiliki esensi serta peran penting dalam menegakkan agama Islam yang berbuah pahala berlipat ganda.
Sangat sederhana saat guruku menerjemahkan nilai dari sebuah dakwah. beliau pernah berkata dalam tiga kata dalam bahasa sunda bahwa dakwah itu adalah kadeudeuh, karapa jeung karasa. Kadeudeuh adalah rasa memiliki terhadap kewajiban dakwah kita. Karapa adalah tersentuh semua lapisan dakwah. Karasa adalah terasa bukti dan hasil dakwahnya. Semua itu adalah buah dari perbuatan bukan hanya perkataan saja.
Dengan berdakwah Insya Allah kehidupan yg berkah siap Allah berikan kepada kita. Karena kita telah memberikan manfaat dan menebar kebaikan untuk orang lain. Dan Allah yang menjamin semua itu. . Telah dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa apabila kita menolong agama Allah maka Allah pun akan senantiasa menolong kita. Rasulullah mewasiatkan dalam sabdanya yaitu,
"Apabila aku mencintainya maka Akulah yg menjadi pendengarannya yang denganya ia mendengar, menjadi penglihatannya yang dengannya ia melihat, menjadi tangan tangannya yg dengannya ia mengukur, menjadi kakinya yang dengannya ia berjalan, dan apabila ia meminta kepadaKu pasti Aku memberinya dan apabila ia memohon perlindungan kepadaKu pasti Aku akan melindunginya" (HR. Bukhari)
Sukses tidaknya kita menjadi muslim yang pandai menyeru kepada kebaikan itu semua tergantung dari pencitraan kita. Bagaimana kita bisa menyeru orang lain apabila diri kita sendiri masih perlu dibenarkan. Bagaimana kita bisa mengajak orang berbuat baik apabila diri sendiri masih menjadi beban bahkan kehadiran kita pun tidak diharapkan di lingkungan. Na’uzdubillah. Dakwah bisa berjalan saat kita bisa jadi contoh untuk orang lain. Dakwah bisa berjalan saat kita tidak menjadi beban orang lain. Dan dakwah bisa jalan saat komunikasi kita dengan semua lapisan dakwah terjalin tanpa ada hambatan.
Semoga kita semua diberi kekuatan untuk menjadi muslim yang termasuk sebagian golongan yang beruntung dan diridhoi Allah. Amiin
“Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai”.
(KH Rahmat Abdullah)
0 komentar:
Post a Comment
silahkan berkomentar