Berubah
Berubah. Sebuah kata yang terkadang sulit kita lakukan. Berat kita kerjakan meski hati telah berniat. Sulit karena tak sejalan dengan harapan. Berat karena diri ini tak cukup kuat. Namun terkadang pula mudah dilakukan jika ada sesuatu. Sesuatu yang sesuai keinginan hati. Sesuatu yang tidak bertolak belakang apalagi membuat bimbang. Hingga perubahan pun bagai membalikan telapak tangan.
Berubah namun tidak berubah-ubah. Tetap pada perubahan yang didasari kebaikan. Allah swt sang berkenhendak Maha Pembolak balik hati. Namun bukan karenaNya perubahan disebabkan. Melainkan atas kemauan hati kita. Apakah akan tetap berada dijalan yang menyimpang, ataukah dijalan yang lurus? Oleh karenanya yang tersulit adalah bertahan dalam perubahan tersebut.
.
Ingat sabuah kisah tentang seorang atheis dan tukang service televisi. Ketika sedang menyervice televisi, sang atheis bertanya kepada tukang service. Ia bertanya tentang keberadaan Tuhan? Sang atheis tak percaya adanya Tuhan.
“Bang, service nih bang!” sambil memberikan televisinya yang rusak. “eh bang, kalo Tuhan memang ada, mengapa dunia ini masih tidak aman, masih dipenuhi orang –orang jahat?” ia langsung memulai percakapan. Tukang service hanya tersenyum.
Sang atheis melanjutkan “Abang kan orang Islam. Kenapa Abang percaya Tuhan? Kalo memang Tuhan itu ada, seharusnya tak perlu lagi ada kejahatan, katanya Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang, tetapi kenapa masih ada orang yang menindas orang lain. Berarti Tuhan membiarkan hambanya terus dalam kejahatan. Dimana Tuhan? ” kata sang atheis.
Sang tukang service yang dikenal juga sebagai seorang muslim yang taat, ia hanya diam dan tersenyum mendengar perkataan sang atheis. Sambil bekerja, tiba-tiba tukang service itu balik bertanya kepada sang atheis.
“Mas, kok aku merasa aneh? ada apa yang dengan orang-orang?” tanya tukang service.
“Lho memangnya kenapa dengan orang-orang?” sang atheis penasaran
“Gini lho mas, sadar gak sih orang-orang kalau saya ini tukang service televisi? Kalau memang sadar kenapa masih saja ada orang yang membiarkan televisi rusak mereka dirumah. Padahal kalau saya betulkan mungkin televisinya akan bagus lagi. Aneh kan mas?” tukang service meyakinkan.
“Hehe.. si Abang nih becanda ya? Bodoh sekali orang yang gak tau abang tukang service. Kata saya sih, Itu bukan karena mereka tidak tahu atau tidak sadar, tetapi mungkin karena mereka malas atau sudah merasa tidak butuh lagi jasa tukang service. Dan mereka memilih membeli yang baru. Jadi mereka biarkan televisi rusak mereka dirumah, tanpa mereka perbaiki” jawab sang atheis dengan nada puas.
Mata pancing tukang service seolah telah dimakan ikan paus. Jawaban yang dinanti-nanti telah terucap. Keadaan berbalik. Tak sadar jawaban sang atheis telah skakmatte. Semua pertanyaan dan argumennya termakan oleh jawabannya sendiri.
“Jika mas berkata seperti itu, maka aku pun akan berkata bahwa bodoh sekali orang yang tak mempercayai adanya Tuhan. Sebenarnya mereka sadar kalau Tuhan itu ada, namun mereka sendiri yang membiarkan hati-hati mereka rusak dikuasai kejahatan. Tak ada upaya untuk mencari dimana Tuhan. Tak ada usaha untuk mencari dimana tempat untuk mereparasi dan memperbaiki kerusakan tersebut. Mereka biarkan hati mereka buta. Mereka malas karena sudah merasa tidak butuh apa-apa. Harta melimpah hidup tenang. Mudah mereka memenuhi kebutuhannya. Tanpa tahu dan tanpa menyadari bahwa semua kebutuhan yang telah tercukupu itu semua adalah pemberian dari Tuhan”
Sang atheis terdiam. Mungkin sedang berpikir. Jawaban tukang service tak terbantahkan.
Dan telah Kami beri petunjuk dua jalan hidup (Qs. QS Al Balad (90):10)
Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa menurut ayat ini, Allâh I memberikan jalan hidup itu terdiri atas baik dan yang buruk. Manusia dengan aqalnya dipersilakan memilih mana yang baik dan mana yang buruk . Melalu proses pembelajaran seseorang akan mendapatkan perubahan dan hidayah.
Pada kaum Tsamud telah Kami beri petunjuk, namun mereka mengambil jalan buta kesesatan dan meninggalkan petunjuk itu. Maka mereka disambar petir sebagai siksa yang menghina kan, akibat dari perbuatan mereka (Qs.Fushilat (41): 17)
Butuh proses, butuh waktu, butuh kemauan, butuh kesadaran, butuh tekad dan butuh energi. Semua dibutuhkan untuk berani berubah. Berani mencari. Tidak diam menunggu perubahan. Tidak diam menunggu perbaikan. Berubah dari hal yang buruk kepada kebaikan. Dari yang baik kepada hal yang lebih baik. Maka berubah ituberarti berpindah. Maka kita sendiri yang harus berpindah agar kekurangan diri dapat diubah menjadi kelebihan. Tentunya selalu dalam konteks kebaikan. Ingat kembali Allah berfirman kepada hambanya, bahwa:
“ Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(Al Baqarah (2) : 218)
Dari ayat ini terlihat bahwa orang-orang yang disebutkan oleh Allah yang benar-benar mengharapkan rahmat Allah adalah orang-orang yang beriman kepadaNya dengan mengimani segala perintah dan laranganNya, kemudian berhijrah dengan sebenar-benarnya hijrah. Merubah dirinya untuk berpindah dari kegelapan menuju cahaya, dari keburukan menuju kebaikan, dari kejahiliyahan menuju Islam, dari kemalasan menuju aktivitas, dari diam dan tak hirau menuju amar ma’ruf nahi munkar, dari mementingkan diri sendiri menuju rahmatan lil ‘alamin, dari kebodohan menuju kecerdikan, kecerdasan dan kepahaman mengenai Islam dll ; serta semua kebaikan dan kebenaran tersebut harus dibela dengan sungguh-sungguh dengan berjihad memakai harta, tenaga, dan pemikiran yang diperjuangkan setiap detik, setiap tarikan nafas yang penuh kewaspadaan dari segala tipu daya syetan yang memperdayakan sehingga kita menghadap kepada Allah SWT.
Rasul saw pun senantiasa memberika nasihat kepada kita lewat sabdanya, agar berbuat kebaikan dan terus memperbaiki diri. Diriwayatkan dari Mujasyik bin Mas'ud as-Sulami r.a (katanya) : Aku berjumpa Nabi s.a.w untuk berikrar setia dengan baginda untuk sama-sama berhijrah. Lalu baginda bersabda : Sesungguhnya Hijrah telah berlalu, tetapi ikrar setia yang masih boleh dilakukan ialah terhadap Islam, jihad dan melakukan kebaikan . (HR Bukhari Kitab Jihad dan Strateginya Hadits No. 2742,2849, Kitab Maghazi Hadits No. 3966,3967 ; HR Muslim, Kitab Pemerintahan Hadits No. 3465 : HR Nasa’i Kitab Perjanjian Hadits No. 4115 : HR Ahmad Ibnu Hanbal Juz 3 Hal 468)
Boleh jadi yang terbaik bagi kita adalah yang tidak kita inginkan. Dan boleh jadi pula yang buruk bagi kita adalah justru yang kita inginkan. Allah swt yang Maha tahu atas semua yang terbaik bagi kita
Oleh karenanya, mari kita berdoa kepada Allah swt, agar senantiasa selalu diberi petunjuk untuk terus melakukan kebaikan. Selalu diberi kesempatan, dicerahkan hati-hati kita untuk senantiasa memperbaiki diri setiap saat. Merubah diri untuk menjadi golongan hambaNya yang terbaik yang mensyukuri segala nikmat pemberian dariNya. Karena tiada nikmat yang lebih besar dan agung, melainkan nikmat karunia keimanan dan keislaman yang menghujam dihati kita.
“ Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisiMu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi”. (QS. Ali-Imran : 8)
0 komentar:
Post a Comment
silahkan berkomentar