Rasakan dan Rasakan
Siang dan malam di negeri ini. Saat siang menampakan diri. Matahari sinarnya menerangi bumi. Suatu karunia yang sangat dinanti. Adakah rasa syukur dalam hati? Negeri yang selalu mendapatkan jatah kehangatan. Setiap hari kita rasakan meresapi tubuh ini. Memantul menyusupi retina. Membuat dunia lebih berwarna. Membantu kerja-kerja klorofil. Sampai menerbangkan butiran-butiran air. Sungguh sempurna.
Begitu pun malam. Saat mengiringi kemudian menutupi. Gelap tak berarti mati. Semua diam dan terlelap. Dan cahaya bulan selalu menasihati. Adakah engkau sempat mengingat illahi? Jangkrik-jangkring bersahutan. Ternyata masih ada kehidupan. Ini sisi lain dari bumi. Tak lantas semua menjadi tak berarti. Namun inilah saatnya lutut dan telapak kita menapak. Kepala bersimpuh peluh. Memohon agar besok masih diberi usia yang utuh. Untuk menempuh jalan yang belum tersentuh.
Di negeri ini tidak ada musim bak gurun sahara. Tak hingga tiupan angin dapat membakar kulit. Di negeri ini tak ada musim dibawah nol derajat. Tak ada cerita kita sekarat dalam kebekuan. Di negeri ini semuanya indah. Langit pun indah. Biru membentang dari timur ke barat. Putih memberi keteduhan dan kesejukan. Gemuning saat senja menanti perputaran. Lukisan sang Maestro Alam. Saat mulai berganti peran. Hitam tetap memberi kehidupan. Gemintang tetap pada posisinya. Tidak bosan membentuk rasi. Penunjuk arah bagi para pengarung samudra. Yang tengah mencari setitik asa. Agar dapat menghidupi kebahagian mereka.
Negeri yang kata pamanku dulu, semua bisa dimakan. Tongkat menjadi tanaman. Laut tak pernah habis walau dikuras hingga meringis. Gunung tak pernah meraung, meski sempat beberapa kali marah karena terpasung. Angin hanya menyapa sesekali. Kadang lembut, kadang menggoda dengan cadaannya. Walau demikian, semua masih tetap ada. Tetap tersedia. Semua melimpah ruah. Namun pernahkah kau berpikir kawan? Mengapa masih ada yang mati menderita? Katanya semua bisa dimakan? Tetapi mengapa masih ada yang kelaparan?
Siang telah menyaksikan semua kenyataan. Malam telah mendengarkan semua pengaduan. Kawan, apakah kau tak percaya akan janjiNya. Tetap serakah? Hingga lambungmu meledak mungkin? Malang sekali jika kawanku seperti itu. Memang semua berawal dari lambung. Tetapi tahukah kawan, janjinya takan pernah meleset. Jangan risau terhadap karunia yang belum ada. Tetapi risaulah karena kau belum menjadi kawan yang mensyukuri yang ada. Negeri ini indah, kawan. Sempurna bagai di negeri dongeng. Mau apapun tersedia. Jangan gelapkan hatimu saat siang, kawan. Jangan tulikan telingamu saat malam, kawan. Rasakan dan rasakan. Kau punya peran kawan. Semangatmu dapat membantu mereka yang membutuhkah. Rasakan dan rasakan sekali lagi.
070112
0 komentar:
Post a Comment
silahkan berkomentar