Ujian, Peringatan dan Hukuman
Jika kamu lulus ujian, itu bukan karena dirimu sendiri, melainkan dari Allah. Jika kamu mendapatkan untung dalam perniagaan, itu semua bukan semata atas jerih payahmu, melainkan atas pemberian dari Allah. Jika kamu mendapat kenikmatan, maka itu dari Allah.
Maka Nikmat-nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian dustakan?
Kalau orang yang beriman, saat sesuatu yang buruk menimpa dirinya, ia tidak serta merta mengatakan bahwa Allah tidak suka padaNya. Tetapi orang yang beriman akan mencari penyebab apa yang telah ia lakukan sehingga Allah menimpakan sesuatu itu kepadanya.
Orang beriman akan menganggap musibah kepadanya adalah ujian yang diberikan Allah. Ujian diberikan untuk menguji hambaNya. Apakah ketika diberikan ujian keimanan dalam hatinya semakin kuat? Ataukan sebaliknya malah semakin melemah? Itulah yang termasuk ujian yang diberikan Allah. Untuk menguji keimanan setiap hambaNya.
Seorang yang selama ini kaya raya. Harta cukup dan serta kecukupan dalam semua kebutuhan. Kemudian oleh Allah ditimpakan kemiskinan. Allah ambil semua harta darinya, sehingga ia berkekurangan. Apakah dengan kemiskinan itu ia akan semakin beriman? Ataukan ia akan semakin menjau dari Allah. Ataukah ia melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah untuk mengembalikan kekayaannya. Ketika kaya ia beriman, dermawan, sering berbagi kepada setiap kawan. Namun apakah ketika miskin ia akan melakukan hal seperti ketika ia kaya? Inilah ujian.
Begitupun sebaliknya, seseorang yang selama ini berada dalam kemiskinan. Ia memohon kepada Allah agar diberi kekayaan. Kekayaan harta yang melimpah dan serba kecukupan. Kemudian Allah mengabulkan doa-doanya. Ia pun menjadi kaya raya. Disinilah ujian kenikmatan yang Allah berikan. Ketika miskin, ia terus berdoa. Tak pernah lewat sekalipun sembahyang shalat. Selalu tepat waktu, amalan sunah dikerjakan. Tahajud pun rajin setiap hari. Tetapi apakah kekayaan telah Allah berikan kepadanya, ia akan tetap seperti itu. Apakah kesibukanya akan menggeser kewajibannya beribadah kepada Allah? Apakah ia akan rajin seperti dulu, ketika ia memohon dan berdoa kepada Allah? Tak semua orang kuat dalam ujian kenikmatan seperti ini.
Ujian kekayaan itu lebih berat dari pada ujian kemiskinan. Orang sering lupa dan terbuai dengan nikmat yang Allah berikan. Nikmat yang Allah berikan lupa ia syukuri, karena kesibukan dunianya. Namun tak bertari ujian kemiskinan pun dapat dikatakan mudah. Tak jarang orang-orang yang merasa dirinya miskin dan serba kekurangan rela melalui jalan pintas untuk mendapatkan kekayaan. Melakukan tindakan-tindakan yang sangat dilarang oleh agama maupun negara.
Allah hanya akan menghukum hambaNya yang berdusta. Maka musibah sebagai ujian adalah ketika seorang hamba mendustakan dan melanggar perintahNya. Dan bersiaplah ketika kita melanggar ketentuan yang telah Allah berikan, maka azab Allah telah menanti disana.
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa yang disebabkan karena dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka”. (QS. Al-Ankabut: 40)
Saat iman kita diuji dan diperingati, maka akan Allah berikan rasa takut, gelisah, boleh jadi itu karena rasa tawakal kita berkurang. Musibah pun bisa menjadi peringatan Allah pada seorang hamba. Boleh jadi selama ini biasanya kita rajin shalat tahajud, namun karena kita terbuai dengan nikmat Allah akhirnya kita lupa. Maka Allah mengambil sebagian nikmat lain sebagai peringatan, agar kita ingat Allah kembali. Allah sayang kepada kita. Oleh karenanya ia senanatiasa menguji dan memperingati setiap hambaNya. Apa yang telah kita lakukan, akibatnya akan kembali kepada kita sendiri
Tapi ingatlah kawan. Saat kita mendapatkan ujian yang membuat kita sulit. Membuat kita merasa tidak sanggup. Ingatlah Allah tak akan memberikan ujian kepada hambaNya diluar batas kemampuan yang diberikan. Allah telah memberikan janji pastinya. Dua kali, kawan. Dalam satu kesulitan, terdapat dua kemudahan.
“Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Dan bersama kesulitan itu ada kemudahan”.(al-Insyirah)
0 komentar:
Post a Comment
silahkan berkomentar