Kawan, Mari Kembali Pulang
Masjid dan Peradaban
Jika bukan karena kecintaan Ibrahim as kepada Allah. Maka naluri ibu sang Hajar membawanya berlari-lari di Arafah. Hanya untuk mencari setetes air kehidupan, ia rela turun naik bukit. Tak tanggung-tanggung 7 kali putaran pun tak membuat semangatnya luntur. Hingga Allah menurunkan bantuan. Dari kaki mungil inilah sebuah takdir peradaban dimulai.
Tak ada yang menyangka Mekah dahulu hanyalah sebuah tanah tak bertuan. Kering, gersang, panas, tak ada seorang pun sanggup hidup berlama-lama di tanah ini. Namun dari sini kebenaran telah menjadi simbol teragung. Sebuah akar tauhid telah tertancap lewat kesungguhan iman kepada sang Rabbi.
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Isma‘il, (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
“ (QS.Al-Baqarah:127)
Sejarah pun mengenalkan kita kepada sosok besar nabi Sulaiman dan Daud. Membangun Al-Aqsa untuk berdiri menjadi pusat keEsaan Allah. Hingga al-qoshwa sang unta merah Baginda Rasul saw berenti diatas tanah bertakdir. Dituntun untuk membangun awal masyarakat baru. Dan Nabawi menjadi pusat kekuatan kedua untuk merebut penaklukan peradaban yang sempat terkuasai.
Semua peradaban ini berawal dari tempat terdekat kita untuk menghadap Allah Rabbul Izzati. Tempat dimana gerakan yang menjadi batas terdalam antara sang hamba dengan Tuhannya. Di tempat ini tak ada lagi perbedaan kuasa. Hanya Allah yang Maha Berkuasa. Semua kepala yang menjadi kehormatan, kita tempatkan lebih rendah dari tempat pembuangan. Itulah simbol ketidak berdayaan hamba. Hanya kepada Allah, hanya kepadaNyalah kita tunduk dan patuh. Semua peradaban ini berasal dari Masjid.
Sujud adalah gerakan dan posisi terdekat antara hamba dan Allah. Masjid adalah tempat sujud. Dan di masjid inilah tempat terdekat kita untuk memposisikan diri dengan Allah. Maka muncul sebuatan Baitullah, rumahnya Allah swt.
Tak ada istana gagah, tak ada gedung megah. Rasulullah saw pemimpin ummat tidak tinggal di rumah mewah. Hanya beralaskan pelepah kurma. Begitupun dengan para penerusnya. Tak ada ceritanya yang dijuluki Khulafaur Rasyidin tidur nyenyak di atasnya. Karena malam mereka habiskan untuk memohon ampunan. Berdoa untuk keselamatan dan tegaknya islam. Lantas dimanakan mereka singgah, berlindung dari teriknya cuaca peradaban? Maka jawabanya: Di masjid yang menjadi simbol kejayaan peradaban.
Di masjid, kita di contohkan merancang masa depan. Didalamnya ada aktifitas luar biasa. Tak hanya jadi tempat ibadah semata. Tetapi juga tempat berjumpa para sahabat, memberikan nasihat dan menerima ajaran kebenaran syari’at. Tempat untuk menguatkan aqidah anak-anak mereka. Tempat persatuan kabilah yang tengah terjangkiti penyakit permusuhan jahiliyah. Tempat untuk mengatur seluruh perputaran persoalan. Tempat tinggal sejumlah kaum faqir yang tak mempunyai rumah. Hingga sebagai parlemen untuk mengadakan musyawarah kenegaraan. Dan semua itu ada di masjid: tempat dan pusat peradaban.
Namun hari ini kita melihat. Tak kurang dari jutaan jumlah pusat peradaban telah dibangun. Bahkan diantaranya ada yang berdiri kokoh dan arogan. Megah, gagah, dan mewah. Tetapi dimana kejayaan yang didambakan? Masjid-masjid itu sangat kasihan nasibnya. Hanya dijadikan tempat untuk shalat saja. Bahkan hanya menjadi simbol kekuasaan dan kekayaan untuk menutupi ketidakberdayaan. Diantara jutaan, maka jutaan itu pula terdapat kekosongan. Peradaban yang kosong. Sepi. Sengaja dkunci pintu-pintunya. Takut pencuri masuk dan membobol microphone. Tak ayal menjadi tempat favorit para pengoleksi sendal. Bosen dengan sendal butut miliknya, tinggal tukar dengan yang baru.
Kalau begitu kemanakah kita berteduh? Saat cuaca peradaban sedang tak bersahabat. Apakah anak-anak kita dibiarkan berhujan-hujan? Hujan pengaruh moderat, hujan pengaruh kebebasan, hingga tak nampak lagi dimana syariat. Dimana Islam? Dimana tempat tinggal Islam? Semua dikunci karena takut ada pencuri. Tempat tinggalnya saja sudah diboikot. Apa kita masih berdaya setelah tau bahwa kita memang sedang tak berdaya? Anak-anak telah nyaman berada di luar. Diculik tetapi mereka senang. Masya Allah. Saat adzan berkumandang, mereka tak beranjak menyaksikan tanyangan kesayangan. Sebenarnya kita sedang perang. Musuh kita lebih canggih, cerdas dan hebat. Tanpa perlawanan berarti kita rela keluar dari rumah dan masuk jebakannya.
Apakah kita akan terus menjauh dari rumah kita? Apakah kita rela anak-anak kita diculik oleh kekejaman perang? Kawan ini rumah kita. Ini Masjid. Mari kembali pulang. Mari menjadikan masjid sebagai tempat supaya anak-anak kita menjadi umat yang mempunyai aqidah kuat, ibadah benar dan akhlak baik. Kita ramaikan, kita makmurkan, kita buat mereka merasa nyaman. Singkirkanlah dulu ego kepercayaan. Kita pulang dahulu. Mari.. di luar cuacanya sangat tidak bersahabat. Masjid adalah rumah kita,kawan. rumah yang aman dari perubahan cuaca dan penyakit yang siap membunuh saat kita lengah. Mari kembali pulang kawan. Dari sinilah peradaban di mulai. Masjid untuk Peradaban.
Inspirasi: kajian rutin tafsir qur’an ibnu katsir bersama ust. Rohimi
Setiap hari rabu, pukul 20.00 s.d 21.00 di masjid Al-Burhan
0 komentar:
Post a Comment
silahkan berkomentar