Emosi Jalanan


Bandung.  Aku tinggal di kota ini.  Mulai dalam buaian hingga kini.  Tak kurang dari seperlima abad telah ku lewati hidupku bersama hawa sejuk kota Bandung.  Iya, banyak orang bilang Kota Bandung itu sejuk.  Namun kini tak lagi sesuai dengan julukannya.  Bandung kota Kembang.  Karena jarang sekali aku melihat kembang di kota Bandung.  Untungnya walaupun kini tak lagi sesuai dengan julukan.  Hawa sejuk kota Bandung tetap menjadi ciri khas.  Begitu pun yang aku rasakan.  Sejuk atau lebih tepatnya aku katakan; dingin.  Dan hal itu menyebabkan aku berpikir lima kali untuk mandi pagi.  Tetapi jangan salah, sering  aku mandi sebelum adzan shubuh berkumandang.  Segar dan butuh perjuangan melakukannya.


Kawan, kuberi tahu kamu suatu hal.  Ternyata sejuk yang aku rasakan itu hanya pada saat Bandung cerah di pagi hari.  Antara fajar hingga nampak sinar mentari.  Kesejukan yang singkat di pagi hari.  Selain di waktu itu, semua penghuni Kota Bandung sudah tahu.  Bandung siang hari itu panas mengganas.  Bandung malam hari itu dingin berangin.  Membuat orang-orang malas beraktifitas.  Makanya rugi sekali orang-orang yang tiap hari tidak bangun pagi.  Mereka melewatkan kesejukan Bandung yang kini langka.


 Tetapi kawan, pagi ini berbeda sekali dengan pagi-pagi sebelumnya.  Tahukan kawan, Bandung pagi ini basah.  Basah oleh gerimis yang mengikis mentalku yang tipis.  Dan apa yang terjadi, aku urungkan niatku untuk mandi pagi ini, kawan.  Tapi tenang kawan, tak baik menertawakanku.  Karena aku yakin kamu pun akan berpikiran sama denganku pagi ini.  Tak kupikirkan lama-lama.  Segera saja aku ganti baju.  Ada kuliah pagi hari ini.  Aku semprotkan saja parfum ke setiap sudut bajuku.  Dan beres, aku berangkat masih gerimis.


Gerimisnya terbawa angin.  Kadang banyak kadang menipis.  Akhirnya kuputuskan hanya memakai jaket saja.  Jas hujan tetap ku biarkan di bagasi motor.   Sebentar aku panaskan mesinya.  Tak sampai lima menit aku pamit kepada mama.  Walau hujan hatiku tidak hujan.  Semangatku masih menghangatkan pagiku hari ini.  Aku berdoa semoga selama perjalanan ke kampus lancar.  Aku yakin akan lancar karena hari ini aku berangkat lebih pagi.   Tepat jam di handphoneku menunjukan 06.45.  Aku prediksi 30 menit. Tiba di kampus jam 07.15, karena aku masuk kuliah jam 07.40.  Namun semua keyakinan ku hancur.  Prediksiku meleset 180 derajat.  Aku lupa kawan!  Dan akibatnya, 08.10 aku baru bisa duduk manis di bangku kelas.  Oh Allah, ada apa ini??


Satu pelajaran berharga saat gerimis mengguyur pagi di Bandung.  Kamu akan menikmati sejuknya udara yang mendamaikan.  Dan aku sarankan, siapkan secangkir teh manis hangat untuk menemani pagimu di teras rumah.  Tapi maaf kawan, saranku takan berlaku jika kamu sedang berada di jalan.  Yang ada kamu hanya akan basah kuyup.  Kedinginan hingga telapak tanganmu takan berasa lagi.  Walau kamu pake helm, tetap saja pengendara motor sebelahmu akan mendengarkan gemeretak gigimu.  Mungkin juga sebagian lain akan menertawakanmu.  Saat mereka merasa aneh, karena kamu tak memakai jas hujan saat perangkap macet membuatmu tak dapat bergerak.


Sungguh kawan, pagi itu aku hanya bisa melihat tetesan air jatuh dari helmku.  Diam dan terdiam melihat ulang keegosan manusia di jalanan.  Lampu merah di perempatan segaja di acuhkan.  Mereka bilang sudah telat, dan semua orang bilang begitu.  Akhirnya perempatan yang luasnya tak lebih lebar dari lapangan bola, menjadi jebakan mereka yang tak sabar menunggu giliran jalan.  Akibatnya; macet total.  Dan aku, badanku basah kuyup.  Jangan harap kau dapat melihat senyumku pagi itu kawan.  30 menit di tengah-tengah macet yang gerimis itu tidak sebentar.  Andai saja klakson motorku saat itu tidak habis air akinya.  Sudah ku pencet-pencet klakson sama seperti motor lain.  Dan yang ku katakan saat itu dalam hati hanya satu kata; sabar.
 

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Post a Comment

silahkan berkomentar