Bersiaplah jalan bersama denganku :)
Sungguh kasihan negeri ini. Sepertinya tak pernah merasakan kebahagiaan. Kemerdekaan setengah abad lebih silam tak berarti apapun hari ini. Hari ini semua geram. Orang-orang tak takut suara mereka serak atau bahkan hilang. Yang penting keadilan bisa ditegakkan. Yang penting orang-orang itu bisa hidup tenang. Meskipun dalam rayuan dan kebohongan. Tolong! Jangan perdengarkan keangkuhan itu. Itu suara mereka. Dan itu pun suaraku juga.
Siapa yang peduli? Sampai sekarang pun semua hal itu masih menjadi cita-cita. Kesejahteraan. Keadilan. Kedaulatan. Keharmonisan. Dan semua cita-cita lainya. Tak pernah dapat ku mengerti. Sebuah panduan terhormat negeri ini tak bisa ku mengerti. Mengapa mereka masih bisa berbangga hati. Hormat kepada tiang merah putih dengan penuh hikmat. Dan hafal senandung perjuangan pembebasan negeri ini. Padahal nyatanya bisa dilihat sendiri. Mereka yang dipundaknya masa depan negeri ini. Beberapa orang anak yang lucu dan bersemangat untuk belajar. Tapi, mereka harus menentang maut menyebrang sungai dengan hanya seutas tali tambang. Bergelayutan menaruhkan nyawa mereka untuk setitik impian yang ada dibenak mereka. Masih tak dapat ku mengerti. Apa yang mereka cari?
Dulupun aku begitu, sejak tinggiku tak lebih dari pagar rumahku. Impianku pun sama. Pernah berkeinginan menjadi orang nomer satu negeri ini. Bisa masuk tivi dan jalan-jalan keluar negeri. Tapi setelah aku mengerti dan membuka mata. Masihkah harapan dan semua cita itu ada? Ah ternyata hanya angan semata. Nyatanya masih ada anak yang perutnya lebih besar dari pada balon posyandu. Katanya negeri ini sudah merdeka. Iya, katanya negeri ini sudah merdeka? Aku bertanya.
Sebenarnya aku tak mau ikut-ikutan menjadi gulma. Karena saat ku lihat kenyataan itu, sungguh hatiku nestapa. Kau boleh percaya atau tidak. Kau boleh menganggapku berlebihan atau anak gaul sekarang bilang: ‘Lebay!’. Kau boleh berkata apapun. Karena semua itu tak berpengaruhku. Pendapatku tetap sama. Suaraku tetap sama. Aku tetap sama seperti mereka yang tak takut suaranya serak atau bahkan hilang.
Masalahnya ada pada diri pribadi masing-masing. Tapi didalamnya terdapat masalah lagi. Adakah diri itu mengetahui masalahnya? Ternyata kebanyakan orang tidak tahu. Dan yang lebih banyak lagi mereka yang tidak mau tahu. Teringat pelopor negeri ini, Pak Soekarno berseru bahwa dengan sepuluh pemuda dapat mengguncangkan dunia. Dan kau lihat hari ini ada berapa puluh pemuda, berapa ratus, ribu atau bahkan juta. Seharusnya dunia yang hanya sebesar daun kelor ini bisa ditumpahkan. Dan aku heran memangnya punya kekuatan apa pak soekarno bisa mengguncangkan dunia dengan hanya sepuluh orang pemuda?
Aduh, sudahlah. Jangan kau urusi orang lain. Urusilah dirimu sendiri wahai penulis. Cukuplah kau menulis saja. Karena menulis tak membutuhkan bahan bakar minyak. Hanya saja kau butuh bersiap siaga. Saat-saat dompetku kering, bersiaplah jalan kaki. Jangan mau kalah dengan anak-anak menentang nyawa itu. Semangat mereka tak pernah berkurang meski mereka hanya berdiri diseutas tali menggantung. Biarlah berkeringat dikit demi ilmu yang kau inginkan dan demi cita-cita yang kau impikan. Sejam dua jam berkeringat bisa membuatmu sehat. Dan bersiaplah kau jalan bersama denganku J
0 komentar:
Post a Comment
silahkan berkomentar