Sangkuriang

Sangkuriang

Kala ku lihat orang itu, tatapannya membisu.  Tak banyak aku mengenalnya.  Tubuh tegapnya kadang tersikap oleh pesona rambut keritingnya.  Namun sayang kini dia lebih memilih memangkas habis keritingnya.  Kini kepalanya pun terlihat lebih bulat dari sebelumnya.  Tetapi hal itu tak membuat pesonanya menghilang.  Dan aku tak tahu mengapa dia bertindak demikian.


Dulu dia pernah bangga kepada Nicholas Saputra, pemeran tokoh Rangga dalam film Ada Apa Dengan Cinta.  Rangga beradu akting dengan Cinta, yang tiada lain adalah Dian Sastro Wardoyo.  Betapa senangnya dia dengan rambut keritingnya.  Kala rambut keritingnya disandingkan dengan rambut keriting Rangga.  Teman-teman sekolahnya berkata mirip.  Aku tidak bilang soal wajah, hanya sebatas keritingnya saja.  Dan bisa jadi hal itu hanya sebuah hiburan daripada harus disebut mie keriting.  Cukup beruntung dan walapun teman-temannya bisa dibilang mengejeknya, namun ejekan itu ia anggap bergengsi.


Roda waktu terus berputar.  Benar pepatah mengatakan tak ada yang abadi di dunia ini.  Baru saja dia merasakan sensasi bergengsi, kini tidak lagi.  Rangga telah hilang dari hari-harinya.  Dan sosoknya telah tergantikan oleh seorang musisi band ternama di Indonesia.  Giring Nidji telah menggantikan Rangga AADC.  Entah apa yang membuatnya malu dengan sebutan baru dari teman-temanya itu.  Aku kira ini perkara hati tentang selera manusia.  Dan mungkin saja itu yang menyebabkan dia memangkas habis rambut keritingnya itu.  Sudahlah, aku pun tak memahaminya.  Yang pasti dengan gaya rambut barunya entah apa lagi teman-teman menyebutnya.  Dan aku rasa sebutanya lebih parah dari sebelumnya.  Maaf bagi yang mengerti ‘Cilok Buluan’.  Sebuah fase ujian dan pembiasaan mental bagi rambut gondrong yang dicukur kepalanya.  Lebih mending dari pada dibilang lampu 5watt.


Kita sudahi masalah yang mulai mengeriting itu.  Bisa-bisa rambutku yang lurus ini berubah pula menjadi keriting.  Aku mau bilang sebenarnya dia adalah temanku.  Jika kau tahu tentang kisah Sangkuriang.  Kisah temanku yang satu ini sedikit mirip dengan kisah legenda itu.  Kemiripannya seperti kasus dia dengan rambut keritingnya.  Sangkuriang.   Dia menyebut dirinya sangkuriang dalam pena.  Julukan yang dia tetapkan sendiri.  Itulah uniknya, terkadang aku penasaran dengan semua hal yang dia ucapkan dan lakukan.  Namun terkadang pula aku mual menyaksikanya.  Tak mengerti maksud dari semua laku lampahnya.  Tetapi yang pasti dia adalah teman seperjuanganku.  Temanku yang baik hatinya.


Kejadiannya saat aku meminta nomor handphone, dia tuliskan Sangkuriang dalam phonebook handphone-ku.  Sejak itulah rasa penasaranku muncul, maka aku mencari tahu penyebabnya. Mengapa ia menyebut dirinya Sangkuriang.  Yang aku tahu Sangkuriang adalah seorang anak yang berhasrat ingin menikahi ibundanya, Dayang Sumbi.  Nafsu telah menutupi hatinya sebagai seorang anak.  Walau sang ibunda memberi syarat untuk membangun seribu candi dalam satu malam, tak menjadi gentar dia dengan syarat itu.  Hampir berhasil Sangkuriang membangun seribu candi, detik detik menjelang keberhasilan ternyata takdir tak berpihak padanya.  Pagi menjelang lebih awal, ayam berkokok menuruti keinginan sang ibunda.  Rasa kesal Sangkuriang pun tak terelakan.  Tak tanggung-tanggung perahu dia tendang hingga melegenda menjadi sebuah gunung tersohor.  Hingga nama Gunung Tangkuban Parahu tetap megah menjulang di langit Bandung.


Kawan kembali ku beri tahu satu hal padamu, aku mendapatkan sebuah petuah dari Sangkuriang.  Ternyata kasih sayang itu tak selamanya harus terlihat.  Aku baru sadar kasih sayang itu berada dalam kesendirian.  Dan kesendirian itu tak selamanya mematikan.  Dan itulah yang aku dapatkan darinya.  Yang aku lihat dia lama menyendiri.  Dan itu tak membuatnya mati.  Tetapi aku melihat cahaya di setiap ucapakan yang mulutnya keluarkan.  Entah apa yang dilakukanya saat menyendiri.  Tapi yang pasti, semua ucapannya berdasarkan ilmu dan keyakinan.  Dan sejak saat itu aku merasa ia benar-benar menjadi seorang yang memang usianya lebih senior dariku.


Dia berbeda dengan legenda Sangkuriang dahulu kala.  Kalau ada kelanjutan kisah dari legenda Sangkuriang maka kisah itu ada dalam diri temanku ini.  Tak ada adegan tendang menendang perahu.  Tetapi yang aku tahu Sangkuriang yang ini adalah seorang anak yang hidup bersama ibundanya.  Aku yakin hanya sedikit orang yang mengetahui.  Dan disini aku melihat Sangkuriang menjadi seorang anak yang sangat berbakti.   Yang berusaha tak sedikitpun ingin diketahui.  Yang berusaha selalu menyendiri.


Dia sangat mencintai ibunya.  Cinta seorang anak yang ingin berbakti.  Bukan cinta Sangkuriang yang melegenda dengan seribu candinya.  Walau dapat dikatakan sang anak tak sedikitpun menampakan kasih sayangnya, tetapi rasa yang berbicara.  Jarang mereka berbincang.  Bertanya kabarpun aku tak pernah mendengarkannya.  Aku ikut bingung bagaimana mereka berkomunikasi.  Yang aku lihat hanyalah  kecupan Sangkuriang kepada tangan sang ibu.  Itu pun saat Sangkuriang hendak pergi merantau ke negeri sebrang, jauh meninggalkan sang ibu beberapa waktu.  Tak ada gurat kesedihan yang ditampakan saat perpisahan itu.  Tak ada tatapan yang membeku tak ada pelukan.  Hanya sebait salam yang terlontar, Sangkuriang pergi hilang dari pandangan.  Barulah sang ibu menjawab salam dengan hati kehilangan.


Jarak dan waktu seolah tak dihiraukan.  Wajahnya tetap keriput, rambutnya kian memutih.  Dan tiap bulan keringat Sangkuriang yang berubah menjadi lembaran uang.  Tak pernah dihitung, langsung dikirimkan kepada sang Ibu.  Langkah gontai sang Ibu cukup menjelaskan bahwa usianya jauh berpuluh tahun dari Sangkuriang.  Tak ada lagi yang ditampakan dari kedua orang ini.  Kasih sayang antara mereka tetap tak dapat dilihat.


Pernah kusaksikan saat ku lewati rumah yang Sangkurian tinggalkan.  Dikala pagi sang ibu berdiri di pintu rumah.  Melihat kiri kanan pemandangan sekitar.  Lama menatap dan akhirnya kembali masuk ke dalam rumah.  Pagi yang lain aku pun menyaksikan hal demikian.  Mungkin pagi-pagi jauh sebelumnya ia melakukan hal yang sama.  Dan satu hal kembali aku ketahui bahwa Sangkuriang tak pernah berkata akan pergi selama ini.  Aku kembali terdiam, berfikir berusaha memahami semua sandirwara dua orang manusia itu.


Dan setelah sekian hari tak terhitung lamanya.  Akhirnya sangkuriang kembali.  Dia memintaku menjemput di terminal.  Tiba di halaman, Suara motorku disambut.  Sang ibu keluar dan kembali berdiri di depan pintu.  Melihat siapa yang datang.  Menatap lama karena matanya sedikit rabun.  Tanpa berkata langsung kembali ke dalam rumah.  Tak ada ekpresi yang membuat haru.  Sangkuriang pun turun dari boncengan motorku.  Dia berterima kasih padaku.  Barang bawaannya dia jinjing masuk rumah.  Setelah itu aku tak tahu bagaimana dua kerinduan itu bertemu.  Tetapi aku sedikit yakin, kerinduan itu pun tak berani mereka bedua tampakan.


Belum mencapai satu dekade aku berteman dengan Sangkuriang.  Walau sedikit waktu aku mengenalnya.  Yang ku ingat dulu hanya rambut keritingnya yang menebar pesona. Kini dia lebih memilih mengenakan peci hitam.  Walau mereka hanya hidup berdua.  Dan memang aku hanya melihat dua sosok manusia disana.  Tak ada yang lain.  Di rumah yang di depan pintunya tergantung kuda-kudaan dari kertas, gentong-gentong air dan pot-pot bunga dari bekas cat.  Aku tak berani bertanya, pula aku tak berani bilang bahwa dia tak lebih beruntung dariku.  Dialah Sangkuriang yang mengajariku tentang sebuah kasih sayang.

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Post a Comment

silahkan berkomentar