Cermin Hidupku



Wahai cermin, ku tahu dahulu wajahmu berdebu
Sempat ada yang berdiri dihadapanmu
Mengusap lembut permukaanmu
Tapi sayang, sentuhan itu menodaimu
Hingga kau terbuai kacamu retak
Menjatuhkan serpihan tajam tergeletak


Wahai cermin, ku tahu kini wajahmu masam
Yang kulihat hanya tirai bersulam
Menggantung bertutup berasa mencekam
Tapi kau tak biarkan wajah itu mengusam
Kau perbaiki walau tanganmu berdarah
Oleh serpihan kaca yang dulu bertuah


Wahai cermin, apakah sekarang kau sadari?
Di hadapanmu aku tengah berdiri menanti
Ku lihat celah dari tiraimu sebelah kiri
Kutatapi hingga aku berbisik dalam hati
inilah cahaya pantulanmu?
Menampakan retaknya bayangan diriku


Wahai cermin, janganlah kau termenung
Dengan sebuah angan yang melambung
Aku tak mau bingkaimu patah terpasung
Saat sepoi angin membuat tiraimu mengapung
Inilah aku tegap menatapmu
Ingin ku usap debu yang membuatmu kelu


Wahai cermin, belum sampai hati tangan ini bersih
belum saatnya pula aku mengusapmu penuh kasih
ingin ku buat kacamu kembali jernih
tanpa sebuah retakan karena ku tahu rasanya pedih
Tunggu aku hingga saatnya waktu
Ku buka tiraimu ku lihat bayangan darimu


Wahai cermin, engkaulah cermin hidupku?




Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Post a Comment

silahkan berkomentar