Malam hujan penuh rahmat


Malam temaram.   Tak ku izinkan angin masuk lewat celah jendelaku.  Namun tetap saja, dingin menumpuk membuatku bersembunyi di balik selimut.  Enggan kuperlihatkan ujung jempol kakiku.  Kututup rapat agar dingin tak sedikitpun menyentuhnya.

Sudah lama aku bersamanya.  Benda mungil yang aku sayangi.  Aku sayang sekali padanya, maklum dahulu kudapatkan dia dengan perjuangan.  Tak lantas aku bisa memilikinya.  Hingga setelah beberapa bulan kewajibanku lunas.  Benda mungil itu telah sepenuhnya menjadi miliku dan kini dia setia mendampingiku kemana saja aku pergi.  Jari tanganku sangat bersahabat dengannya.  Bahkan lebih dari sekedar sahabat.  Jika kau perlu bukti, maka jariku mampu bermain dengannya tanpa bantuan mata.


Malam ini dingin.  Jujur kuakui, tempat lahirku ini memang dikenal dengan kedinginannnya.  Aku pun tak berani jika harus mengadu nasibku saat subuh hari.  Mentalku hanya sebatas untuk berwudhu saja. Tak lebih.  Kalaupun lebih, dan sempat beberapa kali aku tumbalkan tubuhku.  Itu mungkin karena aku sedang sadar.  Meski pada akhirnya rambutku basah, kulitku mengkerut, gigiku gemeretak.  Tapi pastinya seger, bersih dan sehat.

Sebelum subuh tiba, benda mungilku tercinta memberiku satu kabar.  Kabar dari perempuan penghujan. Dia bertanya lewat benda mungiku itu.  Dan dia jawab pertanyaan itu sendiri.  Aku heran mengapa dia bisa melakukan itu.  Sungguh aku iri padanya.  Ini yang dia katakan.
“Mengapa ada sebuah jumpa bila akhirnya berpisah jua?”  tanya deras hujan pada tanah suatu saat.
“Agar kau mengerti tiada abadi, kecuali Ia yang mencipta perjumpaan kita” ujar tanah yang digugur rahmat

Aku termenung.  Terlalu berat aku dapat memahaminya.  Aku hanya lelaki biasa yang biasa saja.  Aku tak pernah mengenal apa itu sebuah kata.  Aku tak diajarkan untuk bertanya pada hujan ataupun tanah.  Aku tak mengerti.  Malam itu aku larut mengerucut dalam lamunan.  Hingga tak lama kemudian aku dapatkan dia bertanya kembali.


Kau tahu mengapa aku menulis?
Dalam otakku yang kecil, kata-kata selalu meloncat kiri dan kanan atas bawah depan belakang dan samping.  Setiap satu memori lewat, maka satu kata mengejar yang lain, berbaris dalam kalimat.  Tidak berhenti bahkan berlarian makin cepat.  Karena itulah kawan, aku suka menulis.  Dan berharap kau maklum.  Hanya padamu aku berani membiarkan kata-kata itu berlari.  Mumpung kau masih sendiri.

Larut mengerucut.  Aku semakin terlelap dalam khayalan.  Kata yang kupahami adalah sesuatu yang sering meloncat-loncat.  Aku terbayang seekor kodok.  Ah, aku gerutuki pikiranku sendiri.  Konyol.

Persilahkan kata-kataku mampir, meski sesaat.  Kali ini sejuta kenangan tentang sepi.  Kelak kau akan mengerti, atau memang telah kau pahami.  Bahwa sepi hadir ketika kau berkenalan dengan ramai.  Sejatinya begitulah hidup.  Hadir satu memperkenalkan yang lain.  Senyum mengenalkanmu pada tangis. Pahit pada manis.  Siang pada malam.  Besar pada kecil. Sakit pada sehat. Tua pada muda.  Kaya pada miskin dan mati pada hidup.

Dan terus kata-kata itu deras mengalir keras.  Hingga aku pergi merantau sejenak meninggalkan dingin malam. Malam temaram.  Dan tetap malam ini tak ku izinkan angin masuk lewat celah di jendelaku.


Malam hujan penuh rahmat

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Post a Comment

silahkan berkomentar