Batik Merah Untuk Ibu




“Kapan kamu pulang, nak?” lagi-lagi tanya itu yang terlontar saat aku menelepon Ibu.  Memang aku sudah sepeti Bang Toyib yang dua lebaran tidak pulang.  Bukan aku tak mau, sungguh ku merindukan saat-saat bersama Ibu. Melihat senyumnya saat kuhadiahi sebuah kerudung sederhana tiga tahun lalu. Pula aku merindukan adik-adikku yang tertawa bahagia ketika aku berbagi uang meski hanya lima ribu. Sebenarnya jiwa ini sudah melayang ke Bandung semenjak hari pertama bulan Ramadhan, menikmati kolak yang disiapkan ibu sore hari. Serta melihat semangat si bungsu yang bersemangat menyiapkan makanan berbuka semenjak jam lima sore.

Aku sungguh rindu, Bu.. tapi aku tak mempunyai biaya untuk pulang. Semenjak menikah, aku tinggal bersama mertuaku di Malang. Memang, bisa dibilang aku nekat menikah. Aku memang lelaki, tapi bayangkan kawan, aku dilangkahi tiga adik perempuanku! Usiaku sudah 32, tapi masih belum berkeluarga. Dan aku tak punya pekerjaan, ijazahku tak berguna, melamar sana-sini tak ada hasilnya. Sempurna sudah penderitaanku.

“Lif, sudah waktunya kamu menikah..”, Ibu mengawali pembicaraan di sore hari itu kala aku tengah bermain dengan si bungsu, anak ke 12.

“Tapi Alif masih belum mendapat pekerjaan Bu..” kilahku. Padahal sudah sejak lama aku menaruh hati pada seorang wanita Bogor, dia masih terhitung kerabatku, hanya hubungan persaudaraanku dengannya agak jauh. Satu saja yang menghambatku sebenarnya: biaya. Andai saja dulu aku kuliah lebih serius lagi.. tapi sekarang tinggallah sesal, aku harus menghadapi nasibku: sarjana pengangguran yang ilmunya pas-pasan.

“Tak apa Lif, Ibu akan carikan yang dapat menerima keadaanmu. Kalau ditunda lagi, kapan kau akan menikah, nak?” paksa Ibu.

“Emm.. Baiklah jika Ibu menginginkan seperti itu, aku ikut saja apapun keputusan Ibu.”  Ingin rasanya aku katakan, aku ngin menikah dengan ‘dia’. Tapi lidahku kelu, aku tertunduk diam.

Dan kau pun dapat melihat bagaimana nasibku kini. Aku memang sudah punya pekerjaan, berkat kenalan istriku di kampungnya ini, aku juga sudah tinggal di rumah yang cukup besar, tapi ini bukan rumahku, ini rumah mertuaku. Namun, kusyukuri semua ini. Istri yang shaleha dan seorang anak laki-laki yang tampan seperti aku. Bukannya aku sombong, tapi itu komentar yang keluar dari orang-orang di sekelilingku.

“Lif?”, Suara Ibu mengembalikan aku pada detik yang berjalan kian lambat menurutku.

Iya, iya Bu.. Alif Insya Allah pulang..”, jawabku sekenanya. Aku memang ingin pulang.

“Lebaran kemarin pun kamu berkata seperti ini kan, nak? Tapi kamu tidak pernah datang sekalipun.”, Ibuku terdiam.

“...” aku pun tak punya kata untuk menyangkal lagi.

“Lif, umur Ibu sudah tua. Ibu ingin sekali lebaran ini berkumpul bersama anak-anak Ibu.”, Ada isak terdengar sedikit mengayun di seberang sana. “Nak, apakah kau kesulitan biaya?” lanjut Ibu.

“Emmm.. “  aku ingin berkata tidak, tapi sulit sekali rasanya. “Bu.. bukan kok Bu..” kilahku.

“Berhentilah mengelabui Ibumu yang sudah sepuh ini. Tadi Ibu dapat rezeki, sudah Ibu kirim ke rekeningmu. Pokoknya nanti Lebaran Ibu tunggu kamu di rumah ya Nak..”

Itu kalimat terakhir Ibu sambil memutus pembicaraan kami. Seketika airmataku meleleh, hanya dua tetes saja, sampai anakku meminta digendong keliling rumah olehku.
 ....

“Mas, besok saja perginya, sekarang sudah sore.” Istriku mennghalangi jalanku. Tapi tekadku sudah bulat. Malam ini juga aku ingin melihat wajah Ibu, aku teringat kata-kata Ibu tadi... umur Ibu sudah tua. Ya Allah, ingin aku bersimpuh di depan Ibu dan Ayahku. Selama ini, aku tak pernah membahagiakan keduanya, bahkan hingga aku menikah pun hanya menyisakan kerepotan bagi keduanya.

“Tidak Dek, Mas harus berangkat sekarang. Mas sungkan dengan Ibu, Dek. Do’akan ya dek, sebentar lagi  Mas akan mencium tangan Ibu dan Ayah.”

“Baiklah kalau Mas memaksa. Adek titip salam buat Ayah dan Ibu ya Mas, juga buat adek-adek Mas yang lucu.” Istriku memang paling mengerti keadaanku.

“Mas pergi ya Dek..” istriku menggamit tanganku dan menciumnya takzim. Aku memandangnya dan mengecup keningnya.

“Mas, gak akan nunggu Fatih bangun?”  Istriku mencoba menghalangiku dengan menyebut nama anak kami.

“Gak dek, rindu Mas pada Ibu sudah sepenuh gunung.” Jawabku.

“Iya mas, Adek ngerti. Hati hati di jalan ya Mas.” Istriku tersenyum manis sambil memakaikan jaket padaku. Ya, aku akan ke Bandung mengendarai motor yang kucicil tiap bulan.

“Besok Adek dan Fatih nyusul ya Mas..” istriku melambaikan tangannya. Entah mengapa, kali ini kulihat wajah istriku begitu sendu.
...

Ibu, aku datang. Aku ingin melihat wajahmu lagi, sungguh aku tidak akan pernah menciptakan tangis di wajahmu lagi. Sudah terlalu banyak kecewa yang kuukir dalam hidupmu, tentang kegagalanku, tapi hari ini ingin kutunjukkan sesuatu. Surat kenaikan pangkatku! Ya, baru saj kudapatkan tadi setelah pulang bekerja, tanggal 17 Ramadhan, ooh sungguh sangat menggembirakan. Aku diangkat menjadi kepala bagian di perusahaanku! Syukurlah, dengan usahaku yang cukup giat akhir-kahir ini aku mendapatkan pengakuan  dari mereka.

Selain itu, kubawakan juga batik yang kemarin dulu Ibu inginkan. Memang sudah lama sih Ibu mengingnkan batik ini, tapi kuharap tidak terlambat, batik warna merah kesukaan Ibu. Jiwaku sudah benar-benar melayang di hadapanmu, Ibu..

Adzan maghrib berkumandang, aku menepikan motorku di masjid terdekat. Aku merasa sangat tentram meneguk segelas air dan sebutir kurma yang disediakan pengurus masjid. Lalu shalat maghrib berjamaah. Shalat kali ini terasa begitu damai, ah apakah karena rinduku yang akan segera tertunai ini ya? Setelah shalat, aku bersegera menaiki motorku lagi, aku berniat shalat Isya dan Tarawih bersama keluargaku di Sukabumi. Barusan aku menelepon ayahku dan memintanya menungguku untuk shalat, karena aku sudah sampai cirebon. Mungkin sekitar jam delapan malam aku sampai Bandung. Ibu, betapa wajahmu mendamaikan hatiku.
...

Telepon rumah berdering hingga tiga kali, si bungsu mengangkatnya penuh semangat.
“Halo.. Assalamu’alaikum..” suara anak SD yang ikhlas, melihatnya selalu mengingatkanku dengan anak pertamaku, Alif. Si bungsu-anak kedua belasku- memang punya banyak kemiripan dengan Alif. Apalagi keras kepalanya. Aku jadi ingin segera bertemu Alif, sudah dimanakah ia, sekarang sudah jam setengah delapan malam, sebentar lagi mungkin ia datang.

Ibu!!” Suara si bungsu melengking. “Ini buat Ibu!”
Aku bersegera mengambil alih gagang telepon. “Apakah ini benar dengan nomor rumahnya saudara Alif Nurul Huda?” suara berat di seberang sana.

“Iy,, Iya..” Dadaku berdegup kencang. Allah, mengapa tiba-tiba begitu tegang?

“Maaf, saya dari kepolisian Bogor. Saya ingin mengabarkan bahwa saudara Alif kecelakaan. Sekarang dirawat di Ruamah Sakit Bina Husada, Bogor. Mohon ada pihak keluarga yang segera kesini.” Tanganku lemas, begitupula hatiku.

“Lalu bagaimana kabarnya Alif Pak?” tanyaku gusar.
“Tenang Bu..” suara seberang menenangkan.
“Tidak bisa, saya Ibunya, Pak.. bagaimana kabar Alif Pak?”
“Dia sudah tenang Bu. Dimohon keluarganya segera kesini Bu, untuk mengurus kepentingan lainnya.” Jawab sang Polisi.
Aku, suami, dan dua anak laki-lakiku segera tancap gas ke Bogor. Sungguh perasaanku tak menentu. Nak, kau berjanji ingin memeberikan sesuatu untukku kan? Kau akan shalat berjamaah bersama kami kan? Nak, kumohon bertahanlah, kumohon.
...

Disana, kulihat wajahnya tersenyum, apa yang kau pikirkan Nak? Dia sudah dibalut kain kafan.. aku ingin memeluknya,  tapi suamiku melarang, karena air mataku mengalir tak henti. Nak, kau berjanji shalat bersama kami kan, Nak?
“Bu,” seorang berpakaian polisi menyapaku. “Menurut perkiraan kami, dia ditabrak lari oleh pengendara bus mini yang biasa mengendarai dengan kecepatan tinggi di sekitar wilayah ini. Kami akan berusaha untuk mengejar pelakunya Bu.” Aku hanya mengangguk. “Oya, saat kami temukan, dia memegang dua benda Bu..” Ia memperlihatkan dua benda itu..

Kertas penuh darah.

Dan batik merah, pula penuh darah.

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Post a Comment

silahkan berkomentar