Tanggungjawab




Kini ini aku merasa asyik dengan pekerjaan baru yang tengah aku geluti.  Sebuah pekerjaan luar biasa yang jauh berbeda dengan orang kebanyakan.  Jika orang lain bekerja flat  berutinitas pagi hingga sore, senin hingga jum'at, atau mungkin ada yang sampai sabtu, dan semua itu lelah pastinya.  Aku, dan sebagian kecil dari semua orang, tak seperti itu.  Pekerjaanku yang merangkap sebagai mahasiswa saat ini adalah pekerjaan yang tidak biasa.  Meski ada yang bilang enak bagi mereka yang melihat saja.  Namun, tak bisa begitu saja dibilang enak.  Banyak yang merasa bangga, namun banyak pula yang merasa tak menyangka bahkan tak mengerti apa apa.  Aku malah disangka sebagai manusia yang tak kunjung lulus bangku sarjana.  Dasar manusia..

Sebuah pelaku kegiatan yang mengatur jalannya sebuah kegiatan dari mulai perencanaan hingga eksekusi hari pelaksanaan, itulah keseharianku saat ini.  Singkatnya disebut Event Organizer, atau yang lebih keren mereka menyebutnya EO.  Adalah sebuah hal baru bagi sebagian orang.  Namun hal biasa bagi orang-orang yang terbiasa mengadakan event kegiatan.  Belum lama aku menggeluti bidang ini.  Belum sampai satu windu.  Maka dari itu hal ini merupakan hal yang baru bagiku.  Bandung adalah kota perkembanganku.  Bersama teman-teman yang luar biasa aku hidup menikmati sajian kehidupan yang disediakanNya tiap hari.

Ada berbagai macam karakter orang yang aku hadapi disini.  Hingga aku simpulkan yang dibutuhkan dalam pekerjaan ini adalah sebuah rasa yang keras dan suara yang kuat.  Semua itu dibutuhkan untuk memimpin, gesit mencari jalan keluar saat masalah menerpa, dan perhitungan yang matang disetiap keputusan yang kita ambil.    Aku banyak belajar mengenai lika liku pekerjaan ini.  Setiap geraknya adalah sebuah harga yang jauh dari nominal.  Tak bisa diukur oleh emas karena ini adalah Universitas kehidupan.

Sebuah kegiatan besar.  Tak main main dijudul acara tercantum nama negara kita yang menjadi citra betapa besarnya kegiatan ini.   Hingga harapan itu datang mengangkat hati hingga mengawang.  Namun tak ubahnya seperti hari kemarin, di setiap hari masalah kian datang silih berganti.  Kali ini pikiranku berkecamuk.  Hal semacam ini sering aku alami.  Dan kelemahanku adalah terkadang aku hilang pendirian.  Tiba dihadapanku dua buah pilihan.  Antara tanggung jawab dan kelayakan.  Aku merasa kemampuanku kini sudah layak dihargai dengan harga yang lebih dari ini.   Wajar jika setiap manusia menerima keputusan ini.

Ini masalah profesionalitas.  Aku banyak belajar dari teman-teman akan harga dari sebuah kemampuan dan profesionalitas.   Sampai dititik ini aku tak mengerti, mengapa ini sering sekali terjadi, otaku serasa lambat.  Apakah mungkin ini pengaruh dari rasa lelah.  Ah tapi jika dibandingkan, masih banyak orang yang lebih keras bekerja namun mereka bisa sangat luar biasa.  Sebuah pilihan saat keinginan tak sejalan dengan harapan, apakah kelayakan harus meninggalakan tanggungjawab?  Apakah sebuah nominal yang jauh dari harapan kita harus mengorbankan tanggung jawab?

Tanggungjawab.  Kadang goyah hanya karena kita merasa lebih pantas.  Peringatan ini aku tujukan untuk diriku sendiri.  Luruskan kembali niatnya.  Kita tak hanya bekerja untuk mereka.  Tapi kebaikan dariNya yang akan membuat kita mulia.  Tetap dan selalu berlaku baik dan memilih yang terbaik sesuai bisikan nurani.

Satu hal yang perlu dimiliki oleh seseorang sepertiku adalah ketegasan.  Tegas bukan sembarang tegas.  Tetapi tegas yang tepat saat kita mengambil keputusan.  Bisa bertindak inisiatif dan piawai dalam melakukan pertimbangan negosiasi yang matang.  Tak berat sebenarnya, karena seiring waktu berjalan pastilah kemampuan kita akan terus bertambah.  Syarat yang utama adalah belajar untuk terus belajar.  Terus hingga hela nafas kita terhenti dan kita faham akan arti dari sebuah kehidupan.

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Post a Comment

silahkan berkomentar