Hidup diatas Aspal

Sebuah pengalaman baru tertoreh di garis sejarah kehidupanku.  Selama 14 hari aku diberikan kesempatan menginjakan kaki menapaki tanah Sunda.  Mendampingi sang calon pemimpin untuk masa depan tanah Parahyangan tercinta.  Banya hikmah di setiap jejak.  Banyak ilmu disetiap kedipan mata. Banyak isyarat ke-Agung-an Allah SWT di setiap helaan nafas yang terhembus.  Ada kekhasan tersendiri saat kaki ini menapak di tempat yang berbeda.  Keunikan, keragaman dan kekayaan budaya bumi Jawa Barat nampak jelas terasa oleh mata dan hati.  Tiap sudut jalan adalah gunung nan hijau menjulang.  Tiap ujung pandangan adalah langit biru.  Angin berhembus ke sela-sela rambut saat ku buka kaca mobil yang aku naiki.  Maha Besar Allah Keagungan Sang Pencipta.



Aku tak sendirian dalam perjalanan ini.  Pa Agus menemaniku kemanapun pergi.  Pa Agus yang menyetir mobil dan aku duduk di kursi sebelahnya.  Selama 14 hari kita melakukan kampanye ke setiap daerah dan kota di Jawa Barat.  Ada tiga tim yang dibentuk.  Satu tim untuk rombongan Calon Gubernur yaitu rombongan Ahmad Heryawan.  Satu tim untuk rombongan Calon Gubernur Deddy Mizwar.  Dan satu lagi untuk rombongan istri cagub dan cawagub.  Dan aku ditugaskan untuk bergabung di rombongan istri cagub dan cawagub, yaitu Ibu Netty istri pa Ahmad Heryawan dan Ibu Giselle istri dari Pa Deddy Mizwar.


Kita berdua berjalan menurut agenda yang telah di tentukan.  Kita adalah tim pendahulu dari rombongan.  Tugasnya adalah mengecek terlebih dahulu tempat yang akan dikunjungi oleh Ibu Netty dann Ibu Giselle.  Aku dan Pa Agus bekerja sama untuk mengecek dan mencari titik selanjutnya yang akan dikunjungi.  Dan selama seharian itulah dari pagi hingga larut malam aktivitas kami berada didalam mobil melakukan perjalanan ke tempat yang dituju.



Obrolan diantara aku dan pa Agus pun mengalir begitu deras.  Untuk memecahkan kesunyian dalam perjalanan kami bercanda, curhat dan berdiskusi segala hal. Ngantuk, pegal, cape dan lelah adalah hal yang kami rasakan semenjak hari pertama bertugas.  Tapi semua itu seolah hilang saat ada tawa terselip disetiap obrolan.


 Pa Agus adalah sosok lelaki yang baru aku kenal.   Kian hari semakin sering aku ngobrol dengan pa Agus, semakin pula aku mengenalnya.  Saat aku mengenalnya aku melihat ada sebuah pribadi yang mengagumkan. Beliau adalah seorang yang luar biasa.  Tiap obrolannya ada mutiara.   Kesetiaannya sebagai seorang ayah nampak ketika di setiap jam beliau selalu menelpon  keluarganya.  Mennyapa anak-anaknya, bertanya tentang keadaan mereka dan memanggil istrinya dengan sebutan sayang.  Aku mendapakan banyak nasihat darinya.


Tentang takdir.  Beliau berpendapat tentang pengemis, pemulung dan orang miskin peminta-minta yang kita jumpai di setiap lampu merah.  Orang miskin itu tak takut mati dan penyakit.  Yang mereka takuti itu adalah lapar.  Makanya jangan aneh jikalu kita lihat orang-orang seperti itu makan sembarangan tanpa memikirkan kebersihannya.  Begitulah imbuhnya.  Sebuah perkataan yang memancarkan sinar mutiara.  Aku tersadar seketika dan bersyukur atas segala karuniaNya.  Aku masih diberi kesempatan lebih baik dari mereka.


Sebuah pengalaman yang kaya akan kesan.  Takan terlupakan dan kan tetap terkenang.  .Berjam-jam aku melesat bersama angin, melihat matahari hingga senja menguning.  Roda yang kami tunggangi terus berputar hingga sampai tujuan.  Saat langit mulai gelap, sangat terasa bahwa aku beruntung menjadi seseorang yang pernah hidup diatas aspal.

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Post a Comment

silahkan berkomentar