Jejak Cinta di Pematang Cita #2
Seakan jejak ini mati suri. Harapan tak berujung berarti. Aku bersama misteri berjalas menyisir kehidupan. Dulu aku pernah bercerita tentang daun yang gugur dari pohonya. Tak terasa, sungguh betapa singkat hidup didunia. Tak akan berarti jika kau tak menjejakan kaki. Jika hanya mengusap keringat sendiri, pantaslah lelah. Namun saat kau melihat senyuman dari bibir orang yang kau cintai. Sirna sudah semua lelah menjadi cerah.
Jejakku terus menapak. Maju menuju yang dituju. Sering aku melenceng menyeleweng. Ke kiri mengiri. Ke kanan mengangan. Pernah terlampau jauh langkahku putar arah. Dan terjatuh terjerumus ke dalam kubangan bau. Aku yang menyenangi sepi. Sehingga tak ada yang tau dimana ku terjatuh. Tapi angin membawa aroma itu ke langit. Dicium rembulan dan turunlah hujan. Aku pun bersih kembali.
Penuh isyarat. Sengaja memang. Aku senang dengan sebuah batu yang tersembunyi dibalik rahasia. Dan aku akan salut kepada orang yang mempunyai mata tajam. Dan mata itu bisa melihat dan merasa apa yang sebenarnya aku inginkan.
Terkadang, dimalam yang sunyi, aku merasa rindu. Rindu lantunan sejuk yang terucap lirih dari bibir di subuh hari. Lama aku tak mendengar bibir menantun syahdu. Aku rindu duhai Sang Pengasih, rindu tiada terkira, rindu yang sebenar-benar rindu.
Air yang menolesi kedipan mata ini menjadi saksi. Dia akan berbicara kepada RabbNya. Dia akan mengadu. Begitupun dengan yang lainya. Kesadaran sering kali menjadi budak. Tak terkendali. Jalan yang ku yakini kini hanya satu. JanjiNya itu pasti maka aku akan kejar sebelum tetamu Agung menghadap menyambut hati-hati yang merindu.
#catatanmalam
habis terang terbitlah cahaya
jejak cinta dipematang cita
kan kuraih cinta dan cita hingga ke syurga :)

0 komentar:
Post a Comment
silahkan berkomentar