June4th

Pagi yang cerah di awal Juni.  Belum tepat jarum jam di tangan menunjukan pukul 07.00 wib.  Tak biasanya aku sudah santai nongkrong di kelas kampus pagi ini.  Sendiri, mengambil duduk di kursi tengah.  Ternyata indah pemandangan yang nampak dari lantai 3.  Sudah lama kiranya aku tak menikmati suasana pagi seperti ini.  Sejuk dan asrinya Bandung di pagi hari tak akan ada yang bisa menandingi.  

Suasana ini tidak serta merta menjadikan hari ini baik-baik saja.  Mungkin sudah takdirnya Bandung yang sekarang adalah cerminan manusia modern saat ini.  Cukup kesal aku dibuatnya karena setiap hari macet jalanan harus aku hadang.  Belum lagi udara yang tidak sehat dari asap polusi kendaraan yang sumpek memenuhi jalan.  Itu hanya seperjuta poin masalah yang ada di kota Bandung sekarang.  Tapi nampaknya bukan hanya Bandung yang terjebak, melainkan negara kita pun kelihatannya sudah lelah menahan beban.

Kita lihat Indonesia, negeri yang banyak orang bilang kaya raya serba melimpah.  Sebagian dari kita pun bertanya: apa sih yang tidak ada di Indonesia?  Kemudian pertanyaan itu memang benar adanya.  Tidak ada yang tidak ada di Indonesia.  Indonesia adalah negeri yang memiliki segalanya.  Segalanya serba melimpah.  Sumber daya alam, manusia, energi, budaya, dan keragaman lainya semua melimpah.  Hutannya menjadi paru-paru dunia.  Hasil buminya menjadi anugrah.  Ini dibuktikan dengan kisah historis yang dimiliki bahwa banyak yang ingin menjajah negeri ini karena hasil bumi yang melimpah.  Manusianya cerdas dan penuh prestasi.  Baik didalam bahkan yang tersebar di belahan bumi lain, manusia indonesia telah membuktikan eksistensi dan prestasinya.

Sungguh luar biasa negeri ini.  Dan tak tertinggalkan pula banyak masalah yang tak terhitung jumlahnya menjadi pelengkap senyuman manis rakyat yang berteduh didalamnya.  Kita lihat pulau paling timur di Indonesia. Irian jaya dan papua konon katanya disanalah terpendam emas yang melimpah.  Namun adakah sebagian besar penduduknya menikmati hasil bumi yang terpendam itu?  Kita bicarakan soal cokelat.  Miris rasanya saat ada petani cokelat yang tengah memanen kakao.  Kemudia dia tidak mengetahui bahwa olahan cokelat itu rasanya bisa menjadi manis dan banyak digemari.  Yang ada negara kita adalah negara yang tergadai. 


Kata orang bijak, daripada selalu mengutuki kegelapan lebih baik menyalakan lilin-lilin kecil. Sekarang saatnya kita hadirkan nyala lilin-lilin itu untuk masa depan yang terang bagi anak-anak kita.   Dan kitapun harus bersiap dengan orang-orang yang jahil yang selalu akan tiba-tiba meniup api kecil lilin kita.  Jangan lah kita ikuti lagu Rumor butiran debu.  Saat terjatuh, bisa ga bisa kita harus bangkit lagi.  Saat kecemplung ke laut, mau ga mau kita jangan sampai tenggelam.  Saat kita memutuskan untuk berpetualang, ingatlah pesan malu bertanya sesat dijalan.  Jadi tak ada istilah sesat dijalan dan tak tau arah jalan pulang.  Kita memang bagaikan butiran debu diantara ciptaan Agung Sang Maha Kuasa.  


4 Juni adalah awal.  Tetapi aku pun berharap semoga 4 Juni adalah penutup jalan yang berlubang.  Lubuk hati kecilku merindu saat-saat aku mengadu, bersujud dan menangis dihadapanMu. 

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Post a Comment

silahkan berkomentar