Aku adalah Ilalang

Aku adalah ilalang.  Tumbuh di pinggir jalan.  Tak perlu tanah lapang untuk aku hidup.  Sedikit saja celah yang cukup untuk menopang akarku, aku akan tegar hingga seseorang mencabutnya.  Dan saat kau cabut, maka bersiaplah, kau takan pernah dapat menghilangkanku.  Aku bertumbuh lebih banyak.  Tanpa kau minta, tanpa kau bisa menghentikanya.  Dan maaf cara itu takan membuatku merintih meneteskan airmata.

Aku bergoyang oleh tiupan angin. Tergoyah oleh hembusan kecepatan kendaraan di pinggir jalan.  Yah, aku merasakan hembusan itu.  Membuatku tergoyah.  Membuatku gamang.  Terlalu kuat untukku tetap bisa bertahan.  Namun aku masih bisa tegar.  Setegar yang tak bisa kau bayangkan.

Aku tak pernah meminta hujan datang.  Aku tetap bisa tumbuh besar.  Aku tetap dapat hidup subur.  Aku bisa tetap muncul dimanapun aku mau.  Dan aku mampu melakukan semua itu.  Namun aku senang saat hujan datang.  Apalagi saat saat gerimis.  Saat itu aku akan tersenyum manis.  Semanis yang tak bisa kau lihat.

Aku pun tak pernah bilang dapat bertahan di bawah teriknya panas.  Aku paham bahwa matahari yang memberi panas.  Hangatnya terasa hingga selaput jaringan batangku.  Menjalar hingga ujung tunas.  Namun itu hanya dirasakan olehku.  Kau mana bisa.  Kau mana tahu.  Dan aku sarankan kau untuk tidak menerka-nerka apa yang aku rasakan.

Kini aku memilih untuk tidak hidup di pinggir jalan.  Tempat itu terlalu berdebu.  Hingga kian selalu memburamkan pandanganku.  Telapak daunku kian kotor abu.  Dan aku akan tetap jadi ilalang.  Yang sering kali tak tersadari oleh kau dan manusia.

Hingga tak ada tanah.  Hingga bumi ini menjadi keras.  Tak ada yang dapat tumbuh.  Kecuali aku yang menerobos celah.  Sampai aku temukan sinar yang membuatku kian hangat.  Sampai ku temukan hujan yang dapat meneteskan embun kehidupan.  Disanalah aku tersenyum dan merasakan hembusan angin yang kini lebih aku rasakan sebagai kasih sayang.


Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Post a Comment

silahkan berkomentar