Going Concern: Bertahan lama



*Bertahan lama

Saya akuntan, jadi pernah menghabiskan banyak waktu untuk belajar sebuah konsep yang disebut: going concern. Saya ingat, kuliah tentang teori akuntansi ini seru, karena menjadi tempat terbaik berdiskusi tentang prinsip2, standar2, dan apapun yang melandasi dunia akuntansi. Ada banyak konsep2 dalam dunia akuntansi, tapi kali ini saya akan bahas going concern.

Apa itu going concern? Simpelnya adalah: bertahan lama, hidup lama.

Ketika kita meng-audit sebuah perusahaan, melakukan pembukuan, membuat laporan keuangan, dsbgnya terkait proses akuntansi, maka penting sekali konsep going concern ini. Bahwa perusahaan akan bertahan lama, hidup lama. Karena kalau kita tidak yakin bahwa perusahaan ini akan bertahan lama, metode pencatatan akuntansinya akan amat berbeda. Kita tidak bisa menerapkan pendekatan depresiasi, amortisasi (yang bisa 20 tahun), kita tidak bisa mencatat hutang jangka panjang, dan detail2 lainnya. Saya tahu, tidak banyak diantara kita yang paham tentang akuntansi, jadi sy tidak akan panjang lebar lagi membahasnya.

Lebih baik kita membahas bagian yang mungkin menarik buat kita semua. Karena sebenarnya, konsep going concern ini bisa dipakai buat apapun.

Dalam pernikahan misalnya, kenapa orang2 memutuskan menikah? Karena dia meyakini bahwa pernikahan tersebut akan berjalan lama, atau kalau bisa selama2nya hingga meninggal. Going concern. Tidak ada orang yang menikah hanya untuk keperluan 1-2 jam, atau 1-2 hari. Karena kalau ada, itu tidak cocok dengan tujuan mulia dari sebuah pernikahan. Jika ada, maka metoda 'pencatatan' hubungan itu tidak lagi merujuk pada pernikahan, tapi dengan metode lain.

Dalam hubungan orang tua dan anak, contoh berikutnya. Jelas sekali itu sebuah hubungan dengan konsep going concern. Karena tidak akan ada orang yang menganggap hubungan orang tua dan anak hanya untuk urusan sebentar, temporer. Rusak dunia ini jika ada yang mencatat hubungan tersebut tanpa pondasi going concern. Pun dalam persahabatan, teman baik, kawan sejati, itu juga menggunakan konsep going concern. Kita berteman untuk selama-lamanya, bukan untuk kepentingan sesaat, bukan untuk keuntungan sepihak, dan konsep temporer lainnya.

Maka, ketika kita memahaminya going concern, apapun yang terjadi dalam hubungan tersebut, marah, berantem, bertengkar, berbeda pendapat, pikirkanlah selalu bahwa hubungan ini akan lama. Suami istri yang bertengkar, ketika mereka berangkat dari posisi sama, bahwa pernikahan mereka akan bertahan lama, semenyakitkan apapun bertengkarnya, tetap akan punya pondasi kokoh. Apalah artinya marah2an 2 hari dibandingkan terbentang luas berpuluh tahun waktu masa depan. Anak2 yang ngambek kepada orang tuanya, atau orang tua yang kecewa kepada anak2nya, apalah artinya rasa marah 2-3 jam dibanding terbentang jauh waktu going concern tsb. Hubungan orang tua dan anak akan abadi, tidak bisa diganti. Going concern. Pun saat kita mendidik anak2 kita, gunakan konsep going concern, kita akan melihatnya tumbuh berpuluh2 tahun kelak, maka berikanlah pendidikan terbaik. Dan pendidikan terbaik, tidak selalu menyenangkan bagi anak kita dalam jangka pendek. Boleh jadi menyakitkan, mereka harus belajar disiplin, prihatin, tapi demi going concern, kita bisa melihat hasilnya di masa depan.

Juga dengan persahabatan baik, kita sepakat bahwa itu akan going concern, maka janji masa depan yang lebih baik, akan lebih penting dibanding salah-paham, pertengkaran sesaat. Kita tidak berteman hanya untuk sehari atau seminggu, kita berteman untuk jangka lama. Karena teman baik, semakin lama dia, semakin asyik dan seru. Beda dengan HP, laptop, semakin lama, semakin ngadat dan ketinggalan jaman.

Sadarilah, kita membina hubungan2 baik ini untuk keperluan yang sangat lamaaa. Jadi, catatlah dengan konsep going concern. Jangan catat dengan egoisme, keras kepala, tidak mau berkomunikasi, dsbgnya, dsbgnya. Hidupilah hubungan2 tersebut untuk keperluan yang panjang, selalu lihat dari kaca mata going concern.

Maka, ketika itu terjadi, kesadaran tersebut dimiliki, kita bisa naik satu level lebih tinggi dari konsep tersebut. Satu level lebih tinggi? Ohiya, itu benar, ada konsep yang lebih tinggi dibanding 'going concern' ini. Tidak akan saya bahas sekarang, silahkan kalian temukan sendiri.

*Tere liye

**pastikan kalian paham, pacaran itu tidak pernah masuk dalam teori going concern. karena eh karena, kalaupun kalian ngotot bilang itu akan selama2nya, saya yakin sekali: kalian tidak akan mau pacaran selama2nya, bukan? pada akhirnya mau menikah juga, kan? nah, daripada pacaran, mending langsung menikah, lebih jelas going concern-nya.

sumber

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Post a Comment

silahkan berkomentar